Menangkal Realita Sektor Riil, Dr. Budiyono Soroti Tantangan Likuiditas

Jumat, 01 Mei 2026 13:44 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001625387.jpg
Dr. Budiyono, SE, M.Si, (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Di tengah laporan pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di angka 5%, dinamika di tingkat akar rumput menunjukkan tantangan yang berbeda. Pengamat ekonomi sekaligus akademisi dari ITB AAS Indonesia, Dr. Budiyono, SE, M.Si, memberikan catatan kritis terhadap kondisi sektor properti yang kini tengah berjuang menghadapi tekanan likuiditas dan stagnasi pasar.

Ketua DPD Apernas Solo Raya ini menggambarkan bahwa para pengembang saat ini sedang berada dalam fase yang sangat menantang. Dalam analisisnya, Ia menyoroti beberapa faktor fundamental yang menyebabkan sektor produktif kian terhimpit.  

"Ada diskoneksi antara angka pertumbuhan makro dengan realita di lapangan. Bagi pengembang, penurunan aktivitas pasar yang mencapai 25-40% menunjukkan bahwa energi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terserap oleh sektor riil," ujar Dr. Budiyono. 

Pergeseran Fokus Likuiditas Perbankan

Dr. Budiyono mengamati adanya kecenderungan lembaga pembiayaan yang lebih selektif dan cenderung memprioritaskan penempatan dana pada instrumen negara (SUN) demi mitigasi risiko.

"Sikap perbankan yang mencari titik aman ini secara tidak langsung mengurangi distribusi modal ke sektor konstruksi dan KPR. Dampaknya, sektor riil mengalami keterbatasan ruang finansial di tengah melimpahnya likuiditas perbankan secara nasional," Imbuhnya.

Kecenderungan Masyarakat Memilih Aset Pasif 

Dalam situasi ketidakpastian, pemilik modal cenderung bersikap defensif dengan mengalihkan investasi ke instrumen pasif seperti emas dan deposito.

"Secara makro, fenomena ini menyebabkan dana menjadi 'aset diam' yang tidak produktif. Dana yang seharusnya berputar di sektor pembangunan fisik dan menyerap tenaga kerja, justru mengendap di instrumen berisiko rendah," ungkap Dr. Budiyono.

Beban Operasional di Tengah Stagnasi Pasar

Meskipun daya beli masyarakat untuk sektor hunian cenderung melambat, pengembang tetap dihadapkan pada komitmen finansial yang tidak bisa ditunda, mulai dari bunga bank hingga beban pajak. Kondisi ini menciptakan tekanan arus kas yang sangat berat bagi pelaku usaha.

Keterkaitan Sistemik Sektor PropertiBeliau mengingatkan bahwa sektor properti adalah lokomotif bagi 174 sektor industri pendukung lainnya. Melemahnya daya serap di sektor ini akan berdampak sistemik pada rantai pasok industri nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Rekomendasi Kebijakan

Dr. Budiyono berharap otoritas keuangan dan pemerintah dapat memberikan stimulus yang lebih tepat sasaran. "Kita memerlukan kebijakan yang mampu menarik kembali minat investasi ke sektor produktif. Relaksasi dan insentif nyata sangat dibutuhkan agar arus modal kembali mengalir ke pasar riil sebelum momentum pertumbuhan ekonomi kita benar-benar melambat," pungkasnya.

Dr. Budiyono, SE, M.Si adalah seorang praktisi sekaligus akademisi yang aktif sebagai dosen di ITB AAS Indonesia. Selain bergelut di dunia akademik, beliau juga menjabat sebagai Ketua DPD Apernas (Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana Sehat Nasional) Solo Raya, memberikan beliau perspektif yang komprehensif dalam membedah dinamika ekonomi antara teori dan realita pasar.