ISI Surakarta
Kamis, 02 Juli 2026 18:37 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

ATAMBUA (Soloaja.co) — Lembah Savana Fulan Fehan di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, kembali menjadi panggung seni pertunjukan yang megah dan sarat makna budaya.
Berlatar kemegahan Gunung Lakaan, gelaran Festival Fulan Fehan IV tahun 2026 sukses diselenggarakan pada Sabtu (27/6/2026) dengan mengangkat tema "Dancing for Friendship".
Melalui tema ini, Atambua sebagai kota perbatasan membuktikan bahwa menari bukan lagi sekadar ekspresi gerak tubuh. Seni tari telah bermutasi menjadi bahasa universal untuk merajut persahabatan, menyuarakan perdamaian, dan mempererat tali persaudaraan antara masyarakat di kedua sisi perbatasan RI dengan Timor Leste.
Kemegahan festival tahun ini ditandai dengan keterlibatan 3.900 penari likurai yang memadati lembah savana. Mereka merupakan representasi masyarakat dari empat zona di wilayah Kabupaten Belu. Penampilan kolosal ini disaksikan langsung oleh sedikitnya 25 ribu penonton yang hadir memadati lokasi acara.
Sinergi Strategis Lintas Batas dan Akademis
Festival Fulan Fehan 2026 dibuka secara resmi oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wali Kota Darwin (Australia), serta delegasi dari Timor Leste. Kehadiran para tokoh penting ini menegaskan signifikansi festival dalam diplomasi budaya di kawasan perbatasan.
Di balik layar, kesuksesan festival tidak lepas dari sinergi strategis antara Pemerintah Kabupaten Belu dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kerja sama ini menjadi perwujudan nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menyentuh masyarakat akar rumput. Menjelang puncak acara, kesepakatan bersama (MoU) resmi ditandatangani untuk memperkuat komitmen pelestarian budaya nusantara, riset, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Belu.
Dinas Pariwisata Kabupaten Belu berkolaborasi erat dengan Pascasarjana ISI Surakarta dan Ekosdance untuk merancang tata panggung serta koreografi yang lebih kolosal, tanpa menanggalkan kesucian nilai adat.
Koreografer internasional Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. dari ISI Surakarta bersama tim kurator memadukan keahlian akademis dengan maestro tari lokal untuk mengompilasi potensi seni perbatasan.
Lewat sentuhan ini, Festival Fulan Fehan bertransformasi dari sekadar hiburan regional menjadi destinasi wisata budaya internasional. Festival menjelma sebagai peristiwa kebudayaan yang membawa penonton menyelami kehidupan masyarakat Belu melalui drama kolosal yang memadukan narasi adat, ritual, tradisi menenun, hingga musik tradisional.
Investasi Pendidikan jangka Panjang
Bupati Belu, Willybrodus Lay, menegaskan bahwa kolaborasi dengan ISI Surakarta telah membuahkan hasil riil. Sejumlah putra-putri daerah Belu kini telah menempuh pendidikan jenjang Sarjana hingga Pascasarjana di ISI Surakarta.
"Terima kasih banyak atas dedikasinya untuk Kabupaten Belu. Ke depan masih ada festival, dan kami minta dukungan dari ISI Surakarta agar festival berikutnya tetap berjalan dengan baik dan lancar," ujar Willybrodus.
Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, mengapresiasi hubungan baik yang telah terjalin. Menurutnya, kolaborasi di era dinamis adalah kunci menjaga eksistensi budaya lokal sekaligus meningkatkan daya saing masyarakat.
“Hari ini kita meneguhkan kembali komitmen untuk berkolaborasi bersama dalam pengembangan sumber daya, penelitian, konsultasi, dan pengembangan tradisi budaya yang ada di Kabupaten Belu,” kata Bondet.
Rangkaian Ritual Adat dan Etalase Tenun Perbatasan
Sebelum mencapai puncaknya, rangkaian festival telah dimulai pada Kamis (25/6/2026) melalui ritual adat Ukun Naran Bunaq di Kampung Adat Duarato. Prosesi musyawarah adat sakral suku Bunaq ini menjadi simbol persaudaraan melalui makan adat, permainan tradisional, dan rekonstruksi aktivitas harian yang memperkenalkan kearifan lokal kepada para tamu.
Selanjutnya pada Jumat (26/6/2026), kemeriahan bergeser ke Pelataran Plaza Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Belu di Atambua lewat gelaran “Exotic Tenun by Dekranasda Belu: Parade Tenun dan Fashion Show” yang dirangkaikan dengan Gala Dinner.
Bagi masyarakat NTT, kain tenun adalah identitas yang merangkum kerja keras ratusan tahun. Sebanyak 180 peserta dari kategori pelajar hingga komunitas dari Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, dan Malaka unjuk gigi.
Parade ini kian semarak dengan keterlibatan desainer internasional dari Timor Leste, Darwin (Australia), serta berbagai daerah di NTT, menegaskan Fulan Fehan sebagai episentrum baru diplomasi budaya di beranda depan Indonesia.
Bagikan