GSI dan Pemuda Solo Gelar Refleksi Sumpah Pemuda di Tugu Lilin Solo

Kusumawati - Rabu, 28 Oktober 2026 08:14 WIB
GSI, Walikota Surakarta Forkopimda dan Pemuda Solo Refleksi malam Sumpah Pemuda di Tugu Lilin Solo (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Nuansa kebangsaan dan kekayaan budaya Jawa menyelimuti Malam Refleksi Menuju 100 Tahun Soempah Pemoeda di kawasan monumen bersejarah Tugu Lilin, Penumping, Solo, Selasa (27/10) malam. Acara yang diinisiasi oleh Gerakan Solusi Indonesia (GSI) ini dipenuhi pesan persatuan melalui pembacaan puisi, parikan Jawa, hingga pertunjukan teatrikal dari mahasiswa ISI Surakarta.

Sejumlah tokoh penting hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Wakil Wali Kota Astrid Widayani, Kepala Kejaksaan Negeri Surakarta, Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko, Dewan Pembina GSI seperti Prof. Pujiono, CEO GSI Hendri Tri Asmoro, Dewan Pakar GSI Dr Andina Elok, Co Founder GSI Anas Syahirul dan tokoh lainnya.

Wali Kota Surakarta Respati Ardi dalam sambutannya menegaskan bahwa ruang gerak dan aspirasi anak muda harus diakomodasi secara nyata. Menurutnya, keresahan generasi muda hari ini merupakan bahan bakar untuk melahirkan solusi bagi kemajuan daerah dan bangsa.

"Keresahan anak muda hari ini harus didengarkan dan mulai dari Solo ini, dalam rangka Sumpah Pemuda, pemuda adalah solusi. Saya sangat berharap pemuda hari ini bisa harmonis, bisa menyampaikan pendapatnya, dan bergerak bisa bermanfaat serta berdampak untuk sekitarnya," ujar Respati.

Ia juga berpesan agar generasi penerus senantiasa membekali diri dengan adab dan ilmu pengetahuan yang tinggi guna menangkal berbagai potensi perpecahan.

"Maju terus para pemuda, karena para pemuda lah calon pemimpin masa depan yang harus kita maknai betul dengan ilmu yang tinggi, adab yang tinggi, supaya bisa mempertahankan bangsa kita dari tekanan-tekanan, kerukunan dari kelompok-kelompok yang ingin memecah belah kita. Jangan sampai kita terpecah belah," tegasnya.

Sementara itu, CEO GSI Hendri Tri Asmoro mengungkapkan bahwa malam refleksi di Solo ini baru menjadi titik awal dari gerakan kepemudaan berskala nasional menuju satu abad Sumpah Pemuda.

"Hari ini adalah 'Lilin'-nya, minggu depan tanggal 8 November kita nyalakan 'Obor'-nya di Manahan. Akan ada Doorway Gang, Bayu Skak, dan lain-lain. Habis itu kita akan viralkan lagi ke seluruh Indonesia. Next step-nya adalah di mana pemuda itu bisa menjadi solusi untuk Indonesia Emas, baru kemudian meledaknya nanti di Jakarta. Menuju 100 tahun Sumpah Pemuda, kita akan sudah bergerak secara nasional," papar Hendri.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Komisi Kejaksaan sekaligus Dewan Penasehat GSI, Prof. Pujiono, menekankan pentingnya kolaborasi dan gerakan bersama tanpa memandang besar kecilnya kontribusi awal yang diberikan oleh para pemuda.

"Ketika bergerak bersama-sama, sekecil apa pun gerakan itu, ketika bareng-bareng akan berdampak. Kita menyambungkan antara yang punya dan yang membutuhkan, sehingga Indonesia Emas 2045 itu akan terwujud ketika para pemuda antara yang bergerak dan tidak bergerak, jauh lebih banyak yang bergerak. Virus ini akan kita sebarkan dari Solo ke seluruh Indonesia," terang Prof. Pujiono.

Ia menambahkan bahwa GSI hadir untuk merajut berbagai perbedaan gaya bersuara di kalangan anak muda. "Tantangan sekarang kan penginnya pada pengin nyaring sendiri, si A pengin paling nyaring, si B paling nyaring. Nah, kita pengin jahit saja, kita kolaborasikan dengan semangat kesadaran yang sama menuju Indonesia Emas 2045, semangat menghargai perbedaan, dan saling berkolaborasi," imbuhnya.

Suasana acara semakin semarak tatkala Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko naik ke panggung. Alih-alih membahas keamanan, perwira menengah yang akrab disapa Mbah Con ini tampil energetik sebagai motivator bagi ratusan pemuda yang hadir.

"Kalau kalian ingin sukses, ingat tiga hal. Pertama Allah SWT, kedua orang tua, dan ketiga orang yang setiap hari kalian lihat di cermin, yaitu diri kalian sendiri," tutur AKBP Condro.

Ia turut mengingatkan agar generasi muda tidak terbuai sepenuhnya oleh gawai, media sosial, maupun gim daring, serta senantiasa memegang prinsip Smile, Smart, dan Some.

"Jangan sampai isi kepala kita hanya HP, media sosial, AI, dan game online. Isi kembali dengan hal-hal positif. Hidup cuma sekali, bikin bangga orang tua kita. Anak-anak muda harus sanggup membangun dirinya sendiri dan membangun Kota Solo," pesan AKBP Condro, yang disambut antusias peserta.

Editor: Kusumawati

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌