Muktamar Harus Jadi Ruang Musyawarah Untuk Merumuskan Arah Organisasi

Jumat, 07 Agustus 2026 19:03 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001980695.jpg
Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat pembukaan Muktamar ke 15 Nasyiatul Aisyiyah (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan agar Muktamar tidak dimaknai sekadar sebagai forum organisasi atau pergantian kepemimpinan semata. Lebih dari itu, forum tertinggi tersebut harus menjadi ruang musyawarah yang melahirkan keputusan terbaik, memperkuat ikatan persaudaraan, serta merumuskan arah gerakan organisasi dalam menjawab tantangan zaman.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Haedar saat membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (7/8/2026). Menurutnya, momentum strategis ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh Nasyiatul Aisyiyah untuk membahas berbagai persoalan organisasi, merumuskan program, sekaligus memproyeksikan peran organisasi pada masa mendatang.

"Tentang masalah, tantangan, program, dan proyeksi Nasyiatul Aisyiyah ke depan. Silakan untuk bermusyawarah dengan kecerdasan dan ilmu yang mencukupi," tutur Haedar Nashir.

Ia menegaskan bahwa tradisi musyawarah harus senantiasa menjadi ruh dalam setiap Muktamar Muhammadiyah maupun organisasi otonom di bawahnya. Musyawarah tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan sebuah keputusan formal, melainkan juga menjadi sarana utama dalam membangun kebijaksanaan bersama.

"Jadikan forum-forum Muktamar kita sungguh-sungguh untuk wasyawirhum fil amri sebagaimana semangat bermusyawarah. Itulah yang menjadi jiwa Muktamar-Muktamar kita yang berjalan baik," ujarnya.

Selain sebagai wadah pengambilan keputusan, Haedar menilai Muktamar juga harus berfungsi sebagai ruang untuk mempererat silaturahmi antarkader. Persaudaraan yang dibangun atas dasar nilai dan komitmen ideologi Muhammadiyah diyakini menjadi fondasi penting dalam menjaga soliditas serta kekuatan organisasi.

Di tengah keragaman pandangan yang tumbuh subur di lingkungan Muhammadiyah, 'Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, maupun organisasi otonom lainnya, Haedar mengingatkan bahwa seluruh perbedaan tersebut harus dipersatukan oleh kasih sayang dan semangat kolektivitas.

"Kita disatukan. Dan itulah kekuatan kolektif kita. Keragaman dan perbedaan, insyaallah tidak akan membuat Muhammadiyah dan seluruh komponennya retak, karena ada kekuatan kasih sayang atas nama Allah untuk menjadikan organisasi kita sebagai wahana perjuangan dakwah dan tajdid," tegas Haedar.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk menjaga komitmen terhadap nilai-nilai dasar Muhammadiyah yang telah diwariskan sejak awal berdirinya persyarikatan. Seluruh amal usaha dan gerakan Muhammadiyah sejauh ini dibangun di atas komitmen menjalankan nilai ibadah sekaligus nilai organisasi yang telah teruji sejarah.

Ke depan, Haedar berharap Muktamar mampu menghasilkan keputusan yang adaptif. Arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah harus mampu memproyeksikan masa depan di tengah perubahan zaman yang tidak linier agar bisa mengambil peran strategis dalam kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.

Menutup amanatnya, Haedar mengingatkan agar seluruh proses permusyawaratan ini dijalani dengan penuh semangat persaudaraan dan kegembiraan. Dinamika yang terjadi di dalam forum dinilai sebagai hal yang wajar dan tidak boleh merusak kebersamaan keluarga besar Muhammadiyah.

"Tetap mengedepankan kegembiraan, kebahagiaan, dan kebersamaan. Tidak usah tegang-tegangan," pungkasnya.