seni budaya
Selasa, 07 Juli 2026 21:05 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Penyelenggaraan Kirab Budaya dan Jamasan Gangsa (Gamelan) yang digelar Pemerintah Kota Surakarta bersama komunitas budaya di Gedung Wayang Orang (WO) Sriwedari, Selasa (7/7) sore, menuai apresiasi luas dari tokoh masyarakat dan pegiat seni.
Tradisi tahunan setiap bulan Suro ini dinilai menjadi bukti nyata komitmen menjaga warisan budaya peninggalan Raja Keraton Surakarta, Pakubuwono (PB) X.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Kirab Budaya dari koridor Jalan Slamet Riyadi menuju kompleks Gedung WO Sriwedari pada pukul 15.00 WIB. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ritual Jamasan Gangsa, yakni pencucian gamelan pusaka yang sarat makna spiritual sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Apresiasi tinggi datang dari BRM Kusumo Putro, Ketua Forum Budaya Mataram (FBM) yang juga Penasihat Forum Komunitas Masyarakat Sriwedari (Foksri) sekaligus Ketua Dewan Penyelamat dan Pemerhati Seni Budaya Indonesia (DPPSBI). Hadir mewakili berbagai komunitas di kawasan Sriwedari—mulai dari paguyuban kios buku, Pujasari, hingga pelaku UMKM—Kusumo menegaskan pentingnya ritual ini.
"Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Rangkaian acara jamasan tadi menyucikan beberapa gamelan pusaka peninggalan PB X, di antaranya Kyai Bagus, Nyai Denok, dan Kyai Slamet," ujarnya.
Ia berharap sinergi antara masyarakat, komunitas, dan dinas terkait terus diperkuat agar acara di tahun-tahun mendatang dikemas lebih meriah dan menguatkan Solo sebagai Kota Seni dan Budaya.
Jamasan Gangsa dipimpin Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang memimpin langsung prosesi jamasan menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremonial. Ritual ini menjadi bentuk doa bersama agar aktivitas kesenian di Gedung WO Sriwedari senantiasa mendapat perlindungan Tuhan serta terus memberikan manfaat bagi para seniman dan masyarakat.
Kabar baik juga datang dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono. Ia mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap pertunjukan wayang orang di Sriwedari terus meningkat, bahkan kini didominasi oleh generasi muda.
Merespons antusiasme tersebut, Pemkot Surakarta berencana mengalokasikan anggaran revitalisasi Gedung WO Sriwedari pada tahun depan guna meningkatkan kenyamanan penonton dan seniman mengingat usia bangunan yang sudah tua.
Sebagai salah satu ikon budaya Kota Solo, pertunjukan WO Sriwedari digelar rutin setiap Senin hingga Sabtu pukul 20.00–22.30 WIB dengan harga tiket yang sangat terjangkau, yakni Rp20.000. Pada hari biasa, penonton berkisar 100 hingga 300 orang, sedangkan saat akhir pekan atau musim liburan melonjak hingga 500 sampai 700 pengunjung.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani berkesempatan mengikuti jamasan gamelan dan patung keramat yang ada di Gedung Wayang Orang Sriwedari.
“Ini agenda tahunan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus bentuk penghargaan dan doa akan kegiatan yang sudah ada sejak era PB X,” katanya.
Ia mengatakan jamasan ini merupakan salah satu bagian dari mendoakan agar aktivitas yang ada di Gedung Wayang Orang Sriwedari bisa terus lestari.
Kegiatan kirab budaya dan jamasan gongso dan patung ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya yang dihelat setiap bulan Sura. Tradisi ini melibatkan banyak komunitas pegiat seni dan budaya serta masyarakat yang ada di sekitar Taman Sriwedari.
Bagikan