Ketua FBM Sebut Solo Krisis Identitas ; Slogan Mendunia, Tak Punya Gedung Seni

Kusumawati - Minggu, 05 Juli 2026 09:09 WIB
Ketua Forum Budaya Mataram Dr BRM Kusumo Putro (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Kota Solo yang membanggakan slogan "Solo Spirit of Java" dikenal luas sebagai kota seni dan budaya, ironisnya hingga kini belum memiliki Gedung Kesenian dan Kebudayaan yang representatif. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak yang menilai Solo mulai kehilangan roh budaya dan keseniannya.

Ketua Forum Budaya Mataram (FBM), Dr BRM Kusumo Putro, menegaskan bahwa keberadaan gedung kesenian sudah masuk dalam tahap sangat mendesak atau urgen. Menurutnya, Solo sejak dulu dikenal sebagai gudangnya seniman legendaris, mulai dari maestro lukis seperti Dullah, Heri Gedang, hingga tokoh-tokoh teater, srimulat, ketoprak, dan wayang orang.

"Sangat miris melihat realita saat ini. Kota dengan slogan sebesar itu tidak punya Gedung Kesenian mandiri. Sudah berganti beberapa Walikota saya menyuarakan hal ini secara konsisten di setiap era kepemimpinan, namun hasilnya nihil. Pihak legislatif (DPRD) pun seakan-akan diam dan pura-pura bodoh," ujar Kusumo kepada awak media, Minggu (05/07).

Kusumo menambahkan, Solo juga memiliki Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang setiap tahunnya melahirkan ribuan seniman baru. Potensi sumber daya manusia yang melimpah ini dinilai akan sia-sia jika wadah berekspresi dan berkreasi tidak disediakan oleh pemerintah daerah setempat.

Dampak dari absennya fasilitas ini sudah mulai terasa nyata di lapangan. Banyak sanggar tari lokal yang perlahan mati suri akibat kekurangan anggaran dan tidak memiliki tempat latihan. Kusumo mencontohkan sanggar asuhannya, Sanggar Gendewo Pinentang, yang pelatih dan anggotanya kerap kebingungan mencari tempat latihan hingga harus menumpang dari satu pendopo kelurahan ke pendopo lainnya.

Lebih lanjut, FBM meminta agar pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah segera mewujudkan janji pelestarian kebudayaan. Gedung kesenian yang diusulkan nantinya harus bersifat multifungsi dan berlokasi strategis di tengah kota, bukan di pinggiran.

Fasilitas tersebut yang memperkuat ikon Solo Kota Budaya, diproyeksikan sebagai tempat pertunjukan musik, latihan teater, workshop, hingga ruang pameran seni rupa gratis, yang tidak membebani seniman dengan biaya sewa hotel yang tinggi.

Selain sebagai wadah seniman, gedung ini juga dapat dihidupkan kembali sebagai Taman Hiburan Rakyat (THR) modern yang menyajikan hiburan murah meriah bagi masyarakat luas, sekaligus menjadi paket daya tarik pariwisata yang ikonik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Sebagai langkah konkret untuk menggugah kesadaran publik dan menekan pembuat kebijakan, Forum Budaya Mataram bersama elemen masyarakat berencana menggelar aksi sosialisasi besar-besaran di area Car Free Day (CFD) Solo dalam waktu dekat," imbuh Kusumo.

Aksi ini bertujuan untuk mengajak seluruh warga Solo ikut serta memberikan dukungan moral mendesak pembangunan pusat kesenian tersebut demi menyelamatkan roh budaya kota.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS