Kemenko Pangan dan Indolakto Dorong Mahasiswa UNS Jadi Pengusaha Susu Sapi

Selasa, 19 Mei 2026 15:45 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001685699.jpg
Kuliah umum Fakultas Peternakan UNS bersama Kementrian bidang Pangan dan PT Indolakto

SOLO (Soloaja.co) — Program Studi S1 Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar kuliah umum dalam rangka memperingati Hari Susu Nusantara di Gedung FEB UNS, Selasa (19/5/2026).

Forum ini digelar untuk membakar semangat generasi muda agar bersiap menjadi penggerak industri susu nasional, sekaligus menyelaraskan program pemerintah, kesiapan industri, dan peran akademisi.

Acara yang dihadiri sekitar 250 mahasiswa ini menghadirkan Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan Widiastuti, serta Plt Direktur Teknis PT Indolakto Asep Noor.

Kaprodi Peternakan Fakultas Peternakan UNS Prof. Muhammad Cahyadi menyampaikan, sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), UNS perlu memfasilitasi mahasiswa dengan informasi kebijakan terkini. Terlebih, ketergantungan Indonesia terhadap impor susu masih sangat tinggi.

"Ketergantungan impor ini justru membuka peluang besar bagi adik-adik mahasiswa. Masih ada ruang sangat luas yang bisa diisi untuk menjadi pengusaha di bidang peternakan sapi perah," kata Cahyadi.

Fokus Protein Hewani Nasional

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widiastuti menjelaskan, pemenuhan gizi masyarakat menjadi fondasi utama kebijakan sektor pertanian dan pangan saat ini.

“Setelah fokus pada penguatan tanaman pangan sepanjang 2025, pemerintah mulai mengencangkan program peningkatan gizi berbasis protein hewani pada 2026 yang menyasar sektor peternakan, termasuk produk olahan susu.” Ungkap Widiastuti. 

Widiastuti menekankan pentingnya kolaborasi dengan kampus demi mengikis stigma bahwa fakultas peternakan adalah pilihan yang terpinggirkan.

"Kami ingin anak-anak muda ini paham bahwa mereka adalah SDM kunci dalam ekosistem pangan. Kami berharap bisa segera menyusun kolaborasi formal melalui MoU antara Kemenko Pangan, UNS, dan mitra industri," ujar Widiastuti.

Efek Domino Program Makan Bergizi Gratis

Sementara itu, Plt Direktur Teknis PT Indolakto Asep Noor memaparkan tantangan nyata di sektor industri. Ia menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah bakal menjadi motor utama yang menumbuhkan efek domino (multiplier effect) bagi ekonomi peternak.

Saat ini, produksi bahan baku susu segar di Indonesia baru mencapai 2.300 ton per hari. Jika program MBG berjalan penuh dalam skala besar, dibutuhkan pasokan sedikitnya 6.000 ton per hari.
Untuk mengejar kekurangan tersebut, populasi sapi perah di Indonesia harus ditambah sekitar 350.000 ekor lagi agar kapasitas produksi bisa melonjak dua kali lipat.

Asep menilai tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir generasi muda yang masih menganggap peternakan sebagai pekerjaan yang kotor.

"Satu ekor sapi itu bisa menghasilkan keuntungan bersih (net) Rp 1 juta per bulan. Bayangkan potensi ekonominya jika dikelola secara modern. Kami dari industri siap mendukung penuh, mulai dari penguatan manajemen finansial KUD hingga program edukasi peternak ke luar negeri seperti ke Denmark," pungkas Asep.