UMKM Jateng 'Naik Kelas', Gubernur Luthfi Lepas Ekspor Rp 10,1 Miliar
SEMARANG (Soloaja.co) – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melepas ekspor berbagai produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan hasil pertanian Jawa Tengah senilai total Rp 10,1 miliar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Sabtu.
Komoditas yang diekspor merupakan hasil usaha petani dan UMKM lokal, di antaranya mencakup sarang burung walet, ikan pari, keripik udang, kopi, cincau, kapulaga, dan beragam produk unggulan lainnya. Seluruh produk ini merupakan hasil pembinaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan UMKM yang didampingi oleh Badan Karantina Indonesia (Barantin).
- Jateng Terima Investasi Rp 62,3 Triliun dari Malaysia dan Fujian China
- Apresiasi Tertib Lantas, Polresta Surakarta Bagikan Tumbler Operasi Zebra Candi 2025
UMKM Sebagai Tulang Punggung Ekonomi
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Pemprov Jateng memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan UMKM karena sektor tersebut merupakan tulang punggung ekonomi daerah.
“Produk unggulan Jawa Tengah banyak sekali. Jangan berpikir ekspor itu hanya untuk perusahaan besar. UMKM kita boleh dan mampu melakukan ekspor,” tegas Ahmad Luthfi.
Pemprov, lanjutnya, berkomitmen memberikan ruang selebar-lebarnya bagi UMKM untuk naik kelas, termasuk melalui pendampingan karantina agar produk memenuhi standar internasional. Ia juga menyebutkan komoditas seperti ikan cupang, bawang merah, dan sarang burung walet memiliki daya saing tinggi.
Berkat kondisi keamanan yang kondusif, investasi dan ekspor di Jateng terus meningkat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Triwulan III 2025 yang mencapai 5,37% (yoy), melampaui rata-rata nasional (5,04%).
- Pertahankan Prestasi! Jateng Kembali Raih TPID Terbaik Jawa-Bali 2025
- Ribuan Semut Serbu SD di Sukoharjo, Polisi Turun Tangan Amankan Sekolah
Barantin Targetkan Ekspor Tembus Rp 20 Triliun
Ketua Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat, menjelaskan bahwa lembaganya kini tidak hanya berfokus pada proses sertifikasi, tetapi juga aktif mendampingi UMKM agar produk mereka benar-benar memenuhi standar ekspor negara tujuan.
“Yang kita dorong adalah ekspor UMKM. Banyak komoditas yang tidak bisa dihasilkan negara tujuan, tetapi sangat dibutuhkan di sana dengan syarat tertentu,” jelasnya.
Sahat memaparkan, hingga November 2025, nilai ekspor Jateng yang melalui proses karantina sudah mencapai Rp 18,2 triliun dengan 24.935 sertifikasi. Meskipun sedikit di bawah capaian tahun sebelumnya (Rp 19,5 triliun), Barantin optimis menargetkan nilai ekspor dapat tembus Rp 20 triliun pada tahun 2026.
- Jateng Kirim Bantuan Logistik dan Relawan ke Sumatera Barat
- Catur Sagotra 2025: Empat Dinasti Mataram Bersatu di Yogyakart
Hilangkan Persepsi Ekspor Itu Rumit
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Haris, menekankan pentingnya memperbaiki persepsi masyarakat bahwa proses ekspor itu rumit.
“Banyak warga yang ingin ekspor tetapi takut duluan karena merasa prosesnya ribet. Ini salah persepsi. Karantina dan Bea Cukai harus mendekat ke masyarakat,” tegas Abdul Haris, mendorong instansi terkait untuk mempermudah akses dan edukasi bagi pelaku UMKM.
