Solusi Kandang Domba Terkoleksi Ramah Lingkungan di Wonogiri
WONOGIRI (Soloaja.co) — Sektor peternakan memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Di antara berbagai jenis ternak, domba menjadi salah satu komoditas favorit yang terus dikembangkan masyarakat.
Salah satu varietas domba yang kini tengah naik daun dan banyak diminati peternak di Indonesia adalah domba Dorper. Domba komposit hasil persilangan antara ras Dorset dan Persia berekor gemuk asal Afrika Selatan ini dikenal memiliki daya adaptasi tinggi, pertumbuhan yang sangat cepat, serta ketahanan fisik kuat. Pada usia 3,5 hingga 4 bulan saja, bobot hidup domba Dorper sudah mampu mencapai sekitar 36 kilogram.
Namun, kinerja produksi domba Dorper yang impresif ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, kondisi lingkungan, dan tatalaksana pemeliharaan. Karena itu, manajemen pakan, kesehatan, serta perkandangan menjadi kunci utama keberhasilan Budi daya.
- Jelajah Sejarah Kemerdekaan, Ini 5 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi
- Jejak Transformasi Ekonomi Indonesia dari Agraris Menuju Digital
Kandang bukan sekadar tempat menampung ternak, melainkan komponen vital yang melindungi domba dari cuaca ekstrem dan predator, sekaligus mengelola limbah agar tidak mencemari lingkungan. Sayangnya, fenomena di lapangan menunjukkan peternakan rakyat pada umumnya masih menerapkan tatalaksana tradisional tanpa memperhatikan standar tata kelola kesehatan.
Kondisi tersebut dialami oleh Kelompok Ternak Bagus Rejo Mulyo yang berlokasi di Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Kelompok peternak ini mulai mengembangkan budi daya domba Dorper sebagai langkah diversifikasi usaha ternak lokal. Namun, dalam pelaksanaannya, mereka masih menggunakan kandang sederhana berlantai tanah dengan sistem ventilasi dan sanitasi yang belum memadai.
Kandang berlantai tanah yang lembap dan minim sirkulasi udara berpotensi tinggi memicu penumpukan kotoran serta peningkatan kadar gas amoniak. Kondisi lingkungan yang kotor dan berbau menyengat ini rentan menimbulkan penyakit kulit, gangguan pernapasan, hingga infestasi parasit yang pada akhirnya dapat menurunkan performa, kesehatan, dan tingkat produktivitas domba Dorper.
- Harga Rumah Makin Mahal, Mampukah Gaji UMR 2026 Mengejarnya?
- Salah Upload Foto? Ini Cara Hapus Satu Foto di Carousel Instagram
Melihat permasalahan mendasar tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat yang merupakan kolaborasi pakar di bidang pertanian, peternakan, dan pemasaran turun tangan secara langsung. Tim ini terdiri dari Dr. Srie Juli Rachmawatie, S.P., M.Si., drh. Asiah Jamil, M.Si., dan Dr. Ida Aryati Purnowo Wulan, S.E., M.H., M.Si.
Langkah konkret yang dilakukan tim pengabdian adalah merancang ulang (redesign) model perkandangan tradisional menjadi kandang terkoleksi.

Desain inovatif ini mengaplikasikan jaring-jaring pada bagian dasar lantai kandang serta dilengkapi saluran khusus urine di bagian bawahnya. Dengan sistem ini, kotoran padat dan cair (urine) domba akan terpisah secara otomatis.
"Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam pengelolaan kandang yang baik sebagai upaya optimalisasi kesehatan dan produksi ternak domba Dorper, sekaligus mendorong keberlanjutan usaha peternakan domba di Desa Sendangijo," ujar Ketua Tim Pengabdian, Dr. Srie Juli Rachmawatie, S.P., M.Si.
- 3 Film Horor yang Tayang di Bioskop Agustus 2026, Ada Insidious
- Razia Knalpot Brong dan Balap Liar, Polres Sukoharjo Kandangkan 73 Motor
Sistem kandang terkoleksi memberikan keuntungan ganda bagi peternak. Selain memudahkan proses pembersihan dan pengumpulan limbah kotoran, area sekitar kandang menjadi jauh lebih higienis, bebas dari bau menyengat, serta ramah lingkungan. Lingkungan kandang yang bersih secara langsung berdampak positif pada peningkatan kualitas dan kesehatan domba.
Keunggulan dari program pengabdian masyarakat ini tidak hanya berhenti pada pembenahan fisik kandang, tetapi juga mencakup hilirisasi produk dan keberlanjutan ekonomi peternak. Limbah kotoran padat dan cair yang terkumpul secara terpisah diolah menjadi produk agroindustri bernilai jual tinggi, yaitu Pupuk Organik Cair (POC).
Untuk mendukung komersialisasi produk POC tersebut, tim memberikan bantuan berupa pasokan botol-botol kemasan dalam berbagai ukuran. Lebih dari itu, tim pengabdian memberikan pelatihan manajemen keuangan dan strategi digital marketing agar anggota kelompok ternak mampu memasarkan domba Dorper maupun produk POC olahan mereka ke pasar yang lebih luas secara mandiri.
- KKN Unisri Edukasi Pengelolaan Uang Saku dan Budaya Menabung di Sragen
- MBG Dapat Rp240 Triliun dari Anggaran Pendidikan 2027, Ini Penjelasannya
Menyadari bahwa pakan merupakan pilar utama keberhasilan produksi peternakan, tim pengabdian juga memberikan bantuan unit mesin pencacah rumput. Bantuan sarana ini disertai dengan pendampingan langsung mengenai penyusunan pola pemberian pakan yang seimbang dan berkualitas.
Guna memastikan domba Dorper milik peternak tumbuh optimal, tim turut menerjunkan pakar untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ternak secara berkala, termasuk upaya deteksi dini terhadap gangguan kesehatan dan ancaman serangan parasit.
Sebagai penutup, Tim Pengabdian menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas hibah pendanaan program yang dialokasikan pada tahun ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada LP3M dan jimpinan Universitas Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta, Perangkat Desa Sendangijo Selogiri, serta seluruh pengurus dan anggota Kelompok Ternak Bagus Rejo Mulyo yang telah bersinergi dengan kooperatif dan antusias demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat lokal.
