Industri Pengolahan Kontributor Utama Roda Perekonomian, Waspada Provokasi Pelemahan Ekonomi
JAKARTA (Soloaja.co) – Sebagai motor utama perekonomian, industri pengolahan mencakup berbagai subsektor strategis seperti makanan dan minuman, tekstil, logam, kimia, serta farmasi. Pertumbuhan subsektor-sektor ini menjadi indikator utama dari perkembangan ekonomi nasional secara umum.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sektor industri pengolahan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi berdasarkan lapangan usaha pada kuartal I-2025. Pertumbuhan sektor ini tercatat sebesar 4,55% dan memberikan kontribusi sebesar 19,25% terhadap perekonomian nasional pada periode tersebut.
- Ekonomi Rakyat Jadi Prioritas, BRI Gelontorkan Kredit Mikro Fantastis
- HUT Ke-4 Diwa Foundation Dirayakan Bersama Anak Yatim dan Gerakan Milenial Enterpreneur
“Pertumbuhan 4,55% pada industri pengolahan dipacu oleh meningkatnya permintaan dari dalam maupun luar negeri,” ujar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam rilis Selasa, 6 Mei 2025.
Pertumbuhan sektor industri pengolahan pada kuartal I-2025 terutama ditopang oleh subsektor industri makanan dan minuman yang mencatat pertumbuhan sebesar 6,04%.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan Peningkatan Manufacturing Value Added (MVA) berdampak pada posisi Indonesia masuk dalam negara manufaktur global.
"Indonesia mengungguli jauh dibandingkan negara Asean lainnya, seperti Thailand dan Vietnam yang nilai MVA-nya hanya setengah dari nilai MVA Indonesia” tegas Agus.
- BPJS Ketenagakerjaan Surakarta Berikan Santunan dan Beasiswa di Peringatan May Day 2025
- KAI Luncurkan Fitur Flexy Poin, Beli Tiket Kereta Kini Lebih Fleksibel dan Hemat
Selain itu, industri logam dasar mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 14,47%, yang didorong oleh lonjakan permintaan ekspor, terutama untuk komoditas besi dan baja. Di sisi lain, lapangan usaha perdagangan mengalami pertumbuhan sebesar 5,03% dan memberikan kontribusi 13,22% terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2025.
Sementara itu, sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi yakni 10,52%, dengan kontribusi sebesar 12,66%. Adapun pertumbuhan positif pada sektor pertanian didorong oleh tanaman pangan yang melonjak 42,26%, seiring musim panen padi dan jagung serta kenaikan produksi kedua komoditas tersebut.
Sektor peternakan juga mencatat pertumbuhan sebesar 8,83%, dipicu oleh meningkatnya konsumsi daging dan telur selama Ramadan dan Idulfitri.
- Ini Langkah Nyata BRI Bangun Bisnis Tangguh dan Berkelanjutan
- UMS Jadi Tuan Rumah 6th International Knowledge Transfer Forum, Perkuat Kompetensi Bahasa Inggris Guru Muhammadiyah
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tumbuh sebesar 4,87%. Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp5.695,9 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp3.264,5 triliun. Dibandingkan dengan kuartal IV-2024, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,98%.
Namun di tengah kontribusi besarnya, sektor industri kini menghadapi tantangan baru dalam bentuk provokasi sistematis yang berpotensi melemahkan fondasi ekonomi nasional. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan kolektif terhadap segala bentuk provokasi ekonomi yang bisa mengganggu kestabilan pembangunan.
Perlu penguatan narasi berbasis data dan capaian konkret di lapangan, untuk memperlihatkan bahwa sektor industri pengolahan tetap menjadi kekuatan utama dalam menopang pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional.