Telkom Perkuat Fundamental Melalui Transformasi TLKM 30

Selasa, 12 Mei 2026 09:09 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001661702.jpg
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini (PT Telkom Indonesia)

JAKARTA (Soloaja.co) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan kinerja yang resilien sepanjang tahun buku 2025. Di tengah tantangan makroekonomi, perseroan berhasil mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun dengan laba bersih (*net income*) mencapai Rp17,8 triliun.

Meski laba bersih mengalami kontraksi sebesar 9,5% secara tahunan (YoY) akibat kebijakan percepatan depresiasi aset, Telkom mencatatkan *normalized net income* yang tetap kuat di angka Rp22,7 triliun. Langkah percepatan depresiasi ini merupakan bagian dari agenda *total governance reset* untuk meningkatkan akurasi laporan keuangan dan transparansi tata kelola perusahaan.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi momentum krusial dalam eksekusi strategi transformasi TLKM 30. 

Strategi ini difokuskan pada empat pilar utama: *Operational & Service Excellence, Streamlining* portofolio bisnis, *Unlock Value* melalui infrastruktur digital, serta perubahan model operasi menjadi *strategic holding*.

“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi untuk mengakselerasi visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan,” ujar Dian dalam keterangannya, Selasa (12/5).

Keberhasilan transformasi ini mendapat respon positif dari pasar, tercermin dari *Total Shareholder Return* (TSR) sebesar 35,7%. Angka ini terdiri dari kenaikan harga saham (*capital gain*) 28,4% dan *dividend yield* 7,3%.

Kepercayaan investor juga diperkuat dengan kebijakan *payout ratio* dividen sebesar 89% serta program pembelian kembali saham (*share buyback*) senilai Rp3 triliun yang masih berlangsung.

Dari sisi operasional, segmen B2C yang dikelola Telkomsel menunjukkan tren pemulihan positif pada paruh kedua 2025 dengan pendapatan Rp109,2 triliun. Peningkatan trafik data sebesar 15% YoY turut mendorong perbaikan *Average Revenue Per User* (ARPU) seiring dengan kondisi pasar yang kian stabil.

Sementara itu, segmen B2B *Infrastructure* mencatat pertumbuhan pendapatan 9,2% YoY menjadi Rp8,9 triliun, ditopang oleh ekspansi bisnis *data center* dan fiber. Pada bisnis menara, Mitratel mengukuhkan posisinya sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dengan kepemilikan 40.230 menara.

Sebagai bagian dari inisiatif *Unlock Value*, Telkom melakukan pemisahan aset *Wholesale Fiber Connectivity* kepada InfraNexia. Selain itu, perseroan melakukan perampingan lini bisnis (*streamlining*) melalui divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung pada Juni 2026.

Menatap tahun 2026, Telkom berkomitmen melanjutkan disiplin investasi dengan alokasi belanja modal (*capex*) yang terukur untuk penguatan infrastruktur digital, termasuk jaringan serat optik, satelit, dan *data center*. 

“Dengan disiplin operasional, kami yakin dapat memperkuat daya saing dan memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Dian.