Satu Tahun Luthfi-Yasin: Ekonomi Jateng Tumbuh 5,37 Persen

Rabu, 04 Maret 2026 08:35 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001422614.jpg
FGD refleksi 1 tahun kepemimpinan Luthfi Yasin di UNS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Capaian satu tahun masa pemerintahan Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menjadi sorotan utama dalam forum akademis. 

Evaluasi mendalam tersebut dikupas tuntas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa (3/3/2026).

Diskusi membedah berbagai data statistik dan evaluasi lintas sektor yang menunjukkan keberhasilan Pemprov Jateng dalam menjaga stabilitas ekonomi serta memperkuat fondasi pembangunan berkelanjutan melalui kolaborasi luas.

Struktur Ekonomi Kian Kokoh di Angka 5,37 Persen

Statistisi Ahli Madya BPS, Didik Nursetyohadi, memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2025 mencapai 5,37 persen. Meski terdapat perlambatan konsumsi rumah tangga sejak akhir 2023, struktur ekonomi Jateng dinilai semakin mandiri.

“Pertumbuhan ekonomi yang melambat tidak selalu berarti buruk. Saat ini, struktur ekonomi kita tidak lagi hanya bergantung pada konsumsi, melainkan ditopang oleh investasi dan sektor industri, terutama dengan adanya KEK Kendal,” jelas Didik.

Dari sisi kesejahteraan, garis kemiskinan per November 2025 berada pada angka Rp570.000 per kapita, sementara Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah telah menyentuh angka Rp3,2 juta.

Kepemimpinan Kolaboratif dan Capaian Nyata

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli Gayo, menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan Luthfi-Yasin tidak hanya diukur dari popularitas, melainkan dari dampak kebijakan (regional leadership).

“Gubernur bukan sekadar eksekutor teknis, melainkan bagaimana mengelola seluruh kekuatan yang ada melalui collaborative government,” ujar Zulkifli.

Beberapa capaian menonjol yang dipaparkan antara lain:
* Rehabilitasi RTLH: Pembangunan sekitar 200.000 unit rumah tidak layak huni (RTLH), jauh melampaui kuota pemerintah pusat yang hanya mengover 17.000 unit.
* Sinergi Akademis: Menjalin kolaborasi dengan 111 perguruan tinggi untuk riset kebijakan.
* Indikator RPJMD: Dari delapan indikator kepemimpinan yang ditetapkan, tujuh di antaranya telah tercapai, sementara satu indikator (Indeks Integritas Nasional) masih dalam tahap proses.

Harapan Keberlanjutan dari Akademisi

Menanggapi paparan tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNS, Irwan Tri Nugroho, memberikan catatan positif sekaligus pengingat agar kemitraan antara pemerintah dan perguruan tinggi tidak berhenti pada tataran seremonial.

“Kerja sama yang terjalin harus dijaga keberlangsungannya. Jangan hanya menjadi snapshot sesaat, tetapi harus dioptimalkan secara berkelanjutan demi kemajuan daerah,” tandas Irwan.

FGD ini menyimpulkan bahwa dalam setahun terakhir, Jawa Tengah berhasil melakukan transisi ekonomi yang lebih stabil dengan mengedepankan investasi sebagai motor penggerak baru di tengah dinamika konsumsi nasional.