Gerhana Bulan Total Warna Merah Tembaga Terlihat Dari Kudus
SUKOHARJO (Soloaja.co) — Kekuatan jejaring astronomi pesantren diuji dalam fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) yang terjadi di tengah bulan suci Ramadan, Selasa (3/3/2026).
Meski cuaca ekstrem mengepung sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, kolaborasi enam observatorium di bawah koordinasi Assalaam Observatory sukses menyuguhkan edukasi "Ayat Kauniyah" kepada masyarakat.
Pakar Astronomi Assalaam Observatory, AR Sugeng Riyadi, mengungkapkan bahwa hujan lebat dan mendung tebal menjadi tantangan utama di pusat kendali Sukoharjo serta titik observasi di Ponorogo (Al-Islam), Gresik (Maskumambang), Klaten (An-Najah), dan Karanganyar (MTA). Namun, sistem mitigasi cuaca melalui sebaran titik observasi terbukti efektif.
- AdaKami Gandeng UNS Luncurkan ‘FutureFin’ Ajak Melek Fintech
- Kredit Tumbuh 3,3%, SMBC Indonesia Bukukan Kinerja Positif 2025
Kudus Jadi Penyelamat Visual
Saat wilayah lain tertutup awan, Observatorium Pondok Tahfidz Yanbu'ul Qur'an Menawan, Kudus, berhasil menangkap visual fase totalitas melalui celah langit. Dokumentasi karya Ustadz Nur Sidqon pada pukul 18.49 WIB menjadi visual utama, memperlihatkan rona merah tembaga pada piringan bulan.
“Alhamdulillah, meski di Sukoharjo hujan belum reda, sinergi ini membuahkan hasil. Puncak gerhana terjadi pukul 19.03 WIB dengan durasi totalitas 57 menit,” ujar AR Sugeng Riyadi.
Ia juga memberikan edukasi bahwa gerhana kali ini unik karena terjadi pada malam ke-15 Ramadan (versi Muhammadiyah) atau malam ke-14 (versi Pemerintah). Fenomena ini menjadi bukti ilmiah bahwa gerhana selalu terjadi saat purnama, namun tidak setiap purnama mengalami gerhana.
- Mudik Bersama TelkomGroup 2026 Siapkan Kuota 1.700 pemudik
- Pastikan MBG Higienis,Satgas Sukoharjo Ajak Warga Ikut Awasi
Integrasi Sains dan Ibadah
Paralel dengan pemantauan teknis, dimensi spiritual tetap menjadi ruh utama di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam. Ribuan jamaah melaksanakan Salat Gerhana (Khusuf) secara khidmat di Masjid Assalaam yang dipimpin oleh Ust. M. Faisal Rabbani, S.Pd.
Dalam khutbahnya, Ust. Ammar Ali Shahbal, S.Ag. menekankan bahwa astronomi pesantren adalah wujud nyata integrasi sains dan agama.
“Ketika teleskop terhalang mendung, keyakinan kami melalui ilmu Hisab tetap teguh bahwa ayat Allah sedang bekerja di balik awan,” tegasnya.
Keberhasilan koordinasi di bawah bendera Club Astronomi Santri Assalaam (CASA) ini menandai kemajuan signifikan dalam mengedukasi masyarakat mengenai fenomena langit secara ilmiah maupun syar'i.
