pembangunan
Selasa, 09 Juni 2026 22:28 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Geliat untuk menggairahkan kembali pasar tradisional di Kota Bengawan memasuki babak baru. Jajaran pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Solo periode resmi dilantik oleh Ketua DPW APPSI Jawa Tengah, Suwanto, di Griya Segaran Manahan, Solo, Selasa (9/6/2026).
Nakhoda DPD APPSI Solo kini resmi dipegang oleh Muzaki Amna. Prosesi pelantikan ini dihadiri langsung oleh Ketua Harian DPP APPSI Don Muzakir, Wali Kota Surakarta Respati Ardi selaku pembina DPD APPSI Solo, serta sejumlah tokoh dan perwakilan pedagang.
Gandeng Program Pusat dan CSR
Ketua Harian DPP APPSI, Don Muzakir, mengingatkan bahwa organisasi yang telah berdiri selama 22 tahun ini memiliki tujuan utama mewujudkan kemandirian ekonomi pedagang. Ia mengajak para pedagang untuk semakin mencintai pasar, termasuk mengedukasi diri terkait pengelolaan sampah yang selama ini kerap menjadi persoalan klasik.
Don Muzakir menegaskan, APPSI siap mengawal program ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi kreatif di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pihaknya akan mendorong pemerintah pusat untuk memprioritaskan anggaran revitalisasi atau rehabilitasi pasar tradisional yang mulai sepi, ketimbang membangun pasar baru yang berpotensi mubazir.
Selain mengandalkan APPSI dan pemerintah, Don Muzakir menyebut strategi menghidupkan pasar pascapandemi harus sekreatif mungkin, seperti membuat konsep pasar wisata atau menggelar program gebyar berhadiah menarik untuk pengunjung.
"Kita jangan menggantungkan hanya pada pemerintah tapi harus bergerak. Kami juga akan mengandeng mitra kerja melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan pangan dan perbankan, salah satunya untuk perbaikan sanitasi serta toilet agar pasar tradisional tidak lagi terkesan jorok," ujar Don Muzakir.
Strategi "Revolusi Pasar" dan Intervensi SPPG
Sementara itu, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengaku prihatin melihat kondisi beberapa kios pasar tradisional di Solo yang sepi. Berdasarkan hasil blusukannya, tantangan nyata di lapangan adalah adanya monopoli kios oleh pedagang besar, serta fasilitas dasar seperti toilet dan kebersihan yang kurang terjaga.
Guna mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota Solo yang memiliki 42 pasar tradisional telah menyiapkan program "Revolusi Pasar" pada tahun ini dan tahun depan. Program ini akan fokus pada perbaikan fasilitas MCK/toilet agar nyaman bagi pengunjung, serta penataan Dinas Perdagangan agar lebih profesional dalam mengayomi pedagang kecil.
"Nilai retribusi itu adalah bentuk pelayanan, jadi saya berjanji tidak akan menaikkan retribusi pasar. Namun, komitmen dari pedagang juga harus ada, salah satunya tidak boleh lagi ada monopoli kios agar pedagang baru yang ingin berjualan tidak kesulitan," tegas Respati yang juga pernah menjadi bagian dari pengurus APPSI.
Sebagai langkah konkret intervensi ekonomi, Respati juga mewajibkan seluruh jajaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Mitra Pasar yang berada di sekitar pasar tradisional untuk berbelanja kebutuhan operasional mereka di pasar terdekat.
"Aturannya simpel, kebutuhan SPBG minimal 30 persen belanjanya harus melalui pasar tradisional yang ada. Harapannya ini menumbuhkan, bukan malah meredupkan pasar," tambahnya.
Wadah Keluh Kesah Pedagang
Usai dilantik, Ketua DPD APPSI Solo, Muzaki Amna yang menjabat selama lima tahun, langsung menyerukan gerakan kerja bersama kepada seluruh pengurus baru. Ia menegaskan tekadnya untuk membawa perubahan positif bagi nasib para pedagang di Solo.
"Mari kita bekerja bersama-sama memajukan pedagang pasar tradisional. APPSI adalah wadah bagi seluruh pedagang pasar. Silakan berkeluh kesah kepada kami, dan mari kita pecahkan setiap masalah yang ada bersama-sama," pungkas Muzaki.
Bagikan