Tahir Solo Museum Terbesar!, Hadirkan Wahana Art, Science, and Culture

Kusumawati - Sabtu, 25 Juli 2026 12:24 WIB
Direktur Sejarah dan Permuseuman Kemenbud RI, Prof. Dr. Agus Mulyana, Pendiri Tahir Foundation Dato Sri Tahir, Walikota Solo Respati dan tokoh saat soft Launching Tahir Solo Museum (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Kota Surakarta resmi melengkapi jajaran destinasi edukasi dan kebudayaannya melalui agenda Soft Launching Tahir Solo Museum pada Sabtu (25/7/2026). Museum yang digadang-gadang sebagai museum terbesar di Indonesia ini hadir berkat kolaborasi strategis antara Tahir Foundation dan Pemerintah Kota Surakarta.

Dirancang secara modern tanpa meninggalkan akar budaya nasional, museum ini menghadirkan beragam wahana interaktif berbasis Art, Science, and Culture. Tata fasilitas museum terbagi atas teknologi STEM di lantai bawah, pameran fosil dan tata surya di lantai tengah, hingga ruang seni kontemporer di lantai atas.

Wali Kota Surakarta, Respati, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tahir Foundation atas komitmen dan kontribusi nyata dalam membangun ruang belajar masa depan bagi generasi muda.

"Ini menjadi berkah luar biasa dan legacy yang sangat baik bagi Kota Solo. Museum ini kita persiapkan bukan hanya dari fisik bangunannya, melainkan sebagai tempat belajar budaya, mencari inspirasi, serta meningkatkan mutu sumber daya manusia agar lahir generasi yang pintar, kreatif, inovatif, dan tetap mengingat akar budayanya," ujar Respati.

Dukungan penuh juga mengalir dari Kementerian Kebudayaan RI. Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., mengonfirmasi status museum ini serta harapannya terhadap pemajuan kebudayaan Jawa.

"Museum ini hari ini dinobatkan sebagai museum terbesar di Indonesia. Dengan bangunan yang sangat megah, semoga ini mengembalikan memori kolektif Solo sebagai bagian penting pusat kebudayaan Jawa dan menjadi etalase budaya Indonesia," ungkap Agus Mulyana.

Pada kesempatan tersebut, Pendiri Tahir Foundation, Dato Sri Tahir, secara resmi menyerahkan pengoperasian fase pertama Tahir Solo Museum kepada Pemkot Surakarta. Ia mengungkapkan bahwa pembuatan museum ini merupakan bentuk rasa terima kasih dan dedikasinya kepada tanah air.

"Dengan ketulusan saya, saya terima kasih. Saya utang kepada negeri ini, kalau tidak ada Indonesia tidak ada Tahir. Perasaan utang itu akan saya bawa sampai saya usai. Terima kasih kepada masyarakat Solo," tutur Dato Sri Tahir.

Pembangunan kompleks museum ini direncanakan mencakup tiga fase berkelanjutan. Fase pertama berupa bangunan utama museum seluas tiga lantai telah rampung diserahterimakan.

Fase kedua yang saat ini memasuki tahap pengerjaan akhir mencakup Presidential Center dengan dua auditorium (terbuka dan tertutup) bertaraf internasional untuk menampung penceramah dunia, penerima Nobel, hingga pentas budaya.

Sementara untuk fase ketiga, pengembangannya diserahkan kepada Pemkot Surakarta yang diusulkan mencakup fasilitas kesehatan, perhotelan, hingga area pemberdayaan UMKM lokal.

Guna menghidupkan ekosistem pendidikan dan seni, Pemkot Surakarta juga membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan perguruan tinggi sekitar, seperti Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Wali Kota Surakarta menegaskan kesiapan jajarannya untuk menyusun regulasi operasional terbaik agar fasilitas ini dapat dinikmati masyarakat luas sebagai pusat pendidikan dan wisata kebudayaan.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS