UMS Luncurkan EMPOWER untuk Jaga Mental Karyawan
SOLO (Soloaja.co) – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi meluncurkan program EMPOWER atau Employee Mental Health & Wellbeing Center, Selasa (9/6). Program inovatif yang diinisiasi oleh Direktorat Sumber Daya Manusia dan Organisasi (DSDMO) UMS ini dirancang khusus untuk mendukung kesejahteraan dan kesehatan mental para dosen serta tenaga kependidikan.
Peluncuran program tersebut dirangkaikan dengan kajian bertema keluarga sebagai sumber kekuatan. Direktur DSDMO UMS, Ir. Tri Widayatno, S.T., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan bahwa performa seorang karyawan di tempat kerja memiliki keterikatan yang kuat dengan kondisi psikologis di dalam rumah tangganya.
“Kalau kita perhatikan, kinerja di kampus itu sangat dipengaruhi oleh kinerja di keluarga. Terkadang ketika kita dalami ada persoalan di kampus, ternyata di belakangnya ada persoalan keluarga,” urai Tri.
Hadirnya EMPOWER diharapkan mampu menjadi wadah pendampingan, penguatan, serta sarana saling membantu dalam menjaga kesehatan mental seluruh sivitas akademika guna meminimalkan tekanan pekerjaan maupun personal.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Wakil Rektor IV UMS, Prof. Dr. dr. Em Sutrisna, M.Kes. Ia menegaskan pentingnya keluarga sebagai faktor pendukung produktivitas dan berharap masalah domestik tidak menjadi pengganjal tanggung jawab profesional di kampus.
- JuneTastic! HeHa Ocean View Tebar Promo Liburan
- 100 SPG Ikuti Aksi Donor Darah PT Mandom dan API Sukoharjo
Prof. Em menjelaskan, UMS sebenarnya sudah lama memfasilitasi layanan kesehatan fisik dan mental. Namun, sebelum EMPOWER dibentuk, layanan kesehatan mental baru menyasar lini mahasiswa melalui Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS). Kini, layanan serupa resmi diperluas untuk merangkul para pegawai.
Dalam kajian tersebut, psikolog Dr. H. Khoirudin Bashori, M.Si., selaku pemateri, mengingatkan bahwa keluarga yang bahagia dan sakinah akan bertransformasi menjadi pilar kekuatan utama bagi individu. Sebaliknya, keluarga yang tidak harmonis justru rentan memicu sumber persoalan hidup.
Menurut Khoirudin, pembentukan keluarga yang ideal umumnya harus melewati lima tahapan dinamis, yakni fase honeymoon, adaptasi, understanding, transformasi, hingga akhirnya mencapai puncak hubungan tulus tanpa syarat yang disebut true love atau rahmah.
