Muhammadiyah
Selasa, 17 Maret 2026 09:37 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

KARANGANYAR (Soloaja.co) – Majelis Pembina Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta menegaskan bahwa proses pengkaderan organisasi yang berkemajuan tidak harus berbiaya mahal, melainkan harus adaptif terhadap dinamika zaman.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua MPKSDI PDM Kota Surakarta, Suyanto, dalam acara silaturahmi dan Buka Bersama (Bukber) yang digelar di Sfa Steak dan Resto Klodran, Karanganyar, Senin (16/3/2026). Acara ini dihadiri oleh jajaran Ortom dan MPKSDI Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kota Solo.
Suyanto menekankan pentingnya terobosan baru agar pengkaderan tidak berjalan stagnan. Ia mengusung semangat "Ranting itu Penting, Cabang Harus Berkembang" sebagai fondasi gerakan.
"Pengkaderan tidak harus mewah. Peserta bisa tidur di ruang kelas atau masjid. Yang terpenting adalah mengubah sudut pandang agar ranting menjadi ujung tombak yang hidup dan mampu memakmurkan masjid," ujar Suyanto.
Bekal Takwa, Hukum, dan Informasi
Hadir sebagai pembicara utama, Ketua PCM Jebres, Bambang Condro Haryadi, mengingatkan bahwa setiap kader Muhammadiyah wajib memiliki bekal utama berupa ketakwaan sebagaimana amanat Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 197.
Namun, di era modern ini, takwa saja tidak cukup. Bambang menegaskan kader persyarikatan harus menguasai dua pilar utama: hukum dan informasi.
"Siapa yang menguasai hukum dan informasi, dialah yang akan memegang kendali. Terutama di Solo yang merupakan salah satu kiblat Muhammadiyah selain Yogyakarta dan Sumatra Barat," tegas Bambang.
Ia juga menyoroti cepatnya arus informasi yang kini bisa direkayasa melalui teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI). Menurutnya, kader Muhammadiyah harus mampu memilah informasi yang otentik dan berjuang berdasarkan fakta serta supremasi hukum.
Informasi Sebagai "Pisau" Perjuangan
Bambang mengibaratkan hukum dan informasi layaknya sebuah pisau. Kualitas hasil yang dicapai sangat bergantung pada siapa yang memegangnya.
"Pisau di tangan seorang koki akan menghasilkan hidangan yang lezat. Sebaliknya, jika hukum dan informasi dipegang oleh kader yang tepat, maka akan membawa kemajuan bagi persyarikatan Muhammadiyah," tutupnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu membangkitkan semangat kader muda Muhammadiyah (AMM) di Kota Solo untuk lebih melek teknologi dan hukum demi menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Bagikan