Bedah Gending Baru Karya Maestro Sukamso di Rabo Ponan ISI Surakarta
SOLO (Soloaja.co) – Atmosfer akademik berbalut kentalnya nuansa tradisional menyelimuti Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada Selasa (5/5/2026).
Program Studi (Prodi) Seni Karawitan sukses menggelar agenda rutin Gelar Wicara Karawitan (Rabo Ponan) yang kali ini menyoroti proses kreatif di balik "Penciptaan Gending Baru" karya maestro karawitan, Sukamso, S.Kar., M.Hum.
- Libur Long Weekend May Day, Daop 6 Layani 189 Ribu Penumpang
- Kelulusan SMA/SMK di Wonogiri Kondusif, Tanpa Konvoi dan Coret-Coret
Diskusi ini menjadi ruang dialog penting yang mempertemukan pakem tradisi dengan napas inovasi. Sebagai narasumber tunggal, Sukamso mengupas tuntas bagaimana sebuah komposisi baru dapat dilahirkan tanpa mencabut akar nilai estetika aslinya. Ia menekankan bahwa gending baru bukan sekadar eksperimen bunyi, melainkan evolusi budaya yang tetap memiliki ruh.
Presentasi Musikal Lintas Generasi
Tak sekadar pemaparan teori, acara ini dihidupkan melalui presentasi musikal yang memukau. Dua kelompok penyaji memberikan interpretasi nyata atas materi yang dibahas:
* Karawitan Cikal Laras: Menyuguhkan kedalaman rasa dan kematangan teknis dalam mengeksekusi gending karya Sukamso.
* Mahasiswa Semester VI Minat Pengrawit: Mewakili semangat generasi muda yang lincah dan berani dalam mengeksplorasi gending kontemporer.
- Masuk Lewat Jalur Tikus, WNA Pakistan di Tarakan Jadi Tersangka
- Kapolres Sukoharjo Beri Penghargaan Tiga Bhabinkamtibmas Berprestasi
Komitmen Menjaga Eksistensi Seni
Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya kapasitas gedung, mulai dari civitas akademika ISI Surakarta hingga praktisi seni dari luar kampus. Ketua Prodi Seni Karawitan, Ananto Sabdo Aji, S.Sn., M.Sn., dalam sambutannya menegaskan bahwa acara ini merupakan jembatan krusial antara teori dan praktik.
"Tepat pada hari ini, kita kembali meneguhkan komitmen bahwa karawitan adalah seni yang hidup. Melalui bedah karya Bapak Sukamso, mahasiswa diajak berani bereksperimen namun tetap memiliki landasan estetika yang kuat," ujar Ananto.
Rabo Ponan edisi kali ini diharapkan mampu memicu produktivitas mahasiswa dalam melahirkan karya-karya baru, sekaligus memastikan seni karawitan tetap relevan dan terus memperkaya khazanah budaya Nusantara di masa depan.
