Gaya Hidup
Minggu, 05 Juli 2026 07:13 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Aku masih ingat jelas malam itu. Diriku sudah rebahan, gawai di tangan, scrolling tanpa tujuan. Lalu masuklah ke sebuah ruang siaran digital yang ajaib. Seorang host perempuan di layar—terasa seperti tetangga sebelah—menawarkan produk perawatan kulit (skincare) dengan bahasa yang santai.
"Kalau menurutmu mahal, bukan karena dompetmu tipis, tapi karena kamu belum ketemu produk yang tepat buat kamu," ujarnya sembari tersenyum. Lima belas menit kemudian, aku sudah checkout tiga produk, termasuk satu yang bahkan tidak pernah aku riset sebelumnya.
Inilah paradoks yang kini menghantui generasi muda Solo. Live shopping yang kita kira sekadar hiburan malam justru menjelma jadi "apotek digital" yang bermata dua. Di satu sisi, mereka mendapatkan ilmu baru tentang skin barrier, niacinamide, bahkan peptide. Namun di sisi lain, ritme "beli sekarang atau kehabisan" membuat kita sering kali belanja lebih cepat daripada sempat berpikir.
Ketika "Edukasi" Menjadi Topeng
Pertama-tama, coba kita bedah apa yang terlihat di layar. Para *host* ini berbicara dengan bahasa yang ramah, kadang diselingi dialek Jawa alus yang bikin kita merasa dekat. Mereka menjelaskan masalah kulit dengan detail, seolah sedang mengobrol dengan teman dekat. Gen Z dan milenial menyebut ini sebagai "belajar tanpa sadar"—kita mendapatkan informasi tentang perawatan kulit tanpa harus masuk kelas formal.
Tetapi coba tengok lagi lebih dalam. Di balik edukasi yang menyapa itu, ada strategi pemasaran yang sangat agresif. Hitung mundur lima menit, label "hampir habis", bonus buy 1 get 3, hingga testimoni yang menumpuk dalam hitungan detik. Di titik ini, batas antara edukasi dan manipulasi psikologis menjadi sangat kabur.
Pasar jelas tidak tinggal diam. Data menunjukkan live commerce di Indonesia tumbuh hampir 100% per tahun, dengan perkiraan nilai transaksi mencapai puluhan triliun rupiah. Skincare dan suplemen menjadi lokomotif utamanya. Di sisi lain, BPOM sendiri setiap hari harus menindak dan menurunkan (take down) ribuan produk ilegal—sebuah isyarat kuat bahwa di balik kegembiraan belanja, ada risiko kesehatan yang besar.
Solo yang "Guyub" dan Rawan Algoritma
Di Solo Raya, kultur "guyub" atau kebersamaan komunal ini bertemu dengan algoritma yang dirancang cermat untuk bikin kita betah menatap layar. Bagi generasi muda di sini, *host live* bukan sekadar penjual. Mereka bertransformasi menjadi "kakak online" yang bisa dipercaya, yang cara bicaranya akrab dan nyaman di telinga. Ketika mereka menyebut nama kita di kolom komentar dan merespons keluhan tentang jerawat (acne) atau tubuh yang kurang bertenaga, rasa percaya itu tumbuh sangat cepat.
Masalahnya, kecepatan membangun kepercayaan tidak selalu seiring dengan kedalaman informasi. Banyak sesi live yang menjelaskan kandungan bahan aktif dengan detail, tetapi jarang jujur mengenai siapa saja yang sebaiknya tidak menggunakannya.
Contohnya seperti ibu hamil, penderita penyakit tertentu, atau orang yang sedang mengonsumsi obat lain. Promo bundling yang sangat murah mendorong kita belanja banyak produk sekaligus, padahal kesehatan kulit dan tubuh justru membutuhkan prinsip "secukupnya dan berkelanjutan".
Tiga Filter Sebelum Klik
Ini bagian paling krusial. Sebelum jari Anda menekan tombol "beli", ada tiga pertanyaan sederhana yang harus diajukan ke diri sendiri:
* Pertama, cek izin dan klaim. Pastikan produk sudah terdaftar resmi di BPOM, lalu kritisi klaim yang berlebihan seperti "memutihkan dalam tiga hari" atau "menyembuhkan segala penyakit". Suplemen dan skincare itu penunjang, bukan pengganti pola hidup sehat dan konsultasi medis.
* Kedua, pahami kondisi diri.** Untuk suplemen, ingat bahwa kondisi tubuh masing-masing orang berbeda. Apa yang cocok untuk influencer belum tentu aman untuk Anda yang mungkin memiliki riwayat hipertensi, diabetes, atau alergi. Pertanyaan seperti "Saya punya penyakit X, aman tidak?" seharusnya dijawab secara bertanggung jawab oleh penjual, bukan dialihkan dengan iming-iming diskon.
* Ketiga, pisahkan "belajar" dari "belanja". Kalau sebuah siaran *live* memberikan penjelasan yang bagus, simpan dulu informasinya. Beri jeda satu atau dua hari untuk melakukan riset mandiri, membaca ulasan objektif, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, atau sekadar bertanya kepada teman yang lebih paham. Jeda inilah bentuk literasi digital yang sering terlupakan.
Belanja Bukan Jebakan
Singkatnya, tren live shopping tidak akan hilang. Ia sudah menjadi bagian erat dari ekosistem belanja generasi muda Indonesia. Pertanyaannya kini bukan lagi "mau menolak atau menerima", melainkan "bagaimana memastikan setiap klik adalah keputusan yang sehat, bukan sekadar impulsivitas sesaat".
Revolusi kecil ini dimulai dari layar paling personal: ponsel di tangan kita. Jika para *host live* bisa mengubah obrolan santai menjadi transaksi miliaran rupiah, maka konsumen muda Solo pun punya kekuatan untuk mengubah jeda lima detik sebelum checkout menjadi sebuah gerakan literasi kesehatan yang masif.
Di titik itu, live shopping bukan lagi sebuah jebakan halus. Ia akan menjadi pintu gerbang menuju generasi yang lebih melek kesehatan—secara fisik, finansial, dan digital.
Bagikan