Ken Swagumilang Atlet NPCI Borong Gelar Para-meter Archery Indonesia Open 2026

Minggu, 09 Agustus 2026 19:42 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001991762.jpg
Ken Atlet Para Archery NPCI raih dia gelar dalam Para-meter Archery Indonesia Open 2026 (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Ketangguhan atlet para panahan Indonesia benar-benar diuji dalam ajang Para-meter Archery Indonesia Open 2026 yang berlangsung di Lapangan FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sabtu-Minggu (7-8/8/2026). 

Bersaing ketat dengan atlet non-disabilitas, pemanah andalan Indonesia, Ken Swagumilang, sukses mendominasi dan mengamankan dua gelar juara sekaligus.

Turnamen yang diinisiasi oleh National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) ini diikuti oleh 65 peserta, di mana 40 di antaranya merupakan atlet non-disabilitas. Kendati demikian, para atlet disabilitas nasional terbukti mampu tampil superior hingga babak final.

Dominasi Ken Swagumilang di Nomor Compound

Ken Swagumilang tampil memukau sepanjang turnamen. Pada nomor individu compound, Ken berhasil meraih medali emas setelah menumbangkan wakil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dimas Maulana, dengan skor tipis 142-138. Sebelumnya, di babak semifinal, Ken juga sukses meredam perlawanan ketat juara POMNAS 2025, Muhammad Faris Ardiansyah, dengan keunggulan 147-145.

Dominasi Ken berlanjut saat turun di nomor mixed team compound bersama Teodora Audi Ayudia Ferelly. Di partai puncak, pasangan ini kembali bersua dengan Dimas Maulana yang berduet dengan Qanita Syauqina. Tampil konsisten, duet Ken/Audi mengunci kemenangan dengan skor 152-147.

Selain dua emas dari nomor compound, tim para panahan Indonesia juga mengamankan satu medali perak lewat pasangan Kholidin dan Noviera Ross di nomor mixed team recurve. Keduanya harus mengakui keunggulan wakil PPLOP Jawa Tengah, Daffa Indika Haidar/Vinethea Natyasha, dengan skor 1-5.

Status Juara Umum: Dengan koleksi dua medali emas dan satu perak, tim para panahan Indonesia resmi keluar sebagai juara umum, mengungguli PPLOP Jawa Tengah (2 emas, 1 perunggu) dan tim Kota Surakarta (1 emas, 1 perak, 1 perunggu).

Menguji Mental Menuju Panggung Dunia

Ajang ini sengaja dirancang oleh tim pelatih sebagai simulasi berat untuk menguji mentalitas bertanding sebelum bertolak ke Asian Para Games 2026 dan Hyundai World Archery Para Series 2026 di Ahmedabad, India, pada 5-9 September mendatang. Kompetisi di India menjadi krusial demi memburu poin menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Pelatih para panahan Indonesia, Idya Putra Harjianto, menjelaskan bahwa beberapa modifikasi aturan sengaja diterapkan demi meningkatkan fokus atlet.

  • Kepadatan Bantalan: Penggunaan satu bantalan target untuk tiga peserta (biasanya hanya dua peserta).
  • Sistem Alternate Shoot: Penerapan panggung tembak bergantian sejak babak kedua untuk mengatasi rasa gugup (nervous), berkaca pada hasil evaluasi Kejuaraan Dunia di Republik Ceko pada Juni-Juli lalu.

"Pertarungan mental di ajang yang mempertemukan atlet disabilitas dan non-disabilitas ini sangat membantu mereka menuju kejuaraan yang lebih besar," ungkap Idya.

Misi Solidaritas Olahraga

Di sisi lain, Ketua Penyelenggara, Rameez Ali, menegaskan bahwa kejuaraan ini membawa misi kemanusiaan dan inklusivitas yang kuat.

"Melalui ajang ini, kami ingin menambah solidaritas antara pemanah disabilitas dan non-disabilitas yang selama ini jarang bertanding bersama di level nasional," tutur Rameez, seraya berharap event ini dapat bergulir menjadi agenda tahunan.

Antusiasme tinggi juga dirasakan oleh para peserta, baik dari internal pelatnas maupun atlet daerah. Ken Swagumilang berharap kompetisi tahun depan digelar lebih besar untuk tantangan tekanan yang lebih tinggi, sementara atlet lokal asal Solo, Asyifa Putri El Zahra, mengaku bangga bisa menimba ilmu langsung dari para pemanah nasional di tengah atmosfer kompetisi yang sangat sengit.