Nostalgia dan Mendukung Seni, PB XIV Ajak Kerabat Karaton Nonton Wayang Orang

Kusumawati - Jumat, 25 September 2026 13:44 WIB
PB XIV dan kerabat Karaton Surakarta nonton pertunjukan Wayang Orang Sriwedari (Soloaja)

SOLO (SOLOAJA.CO) — Di tengah riuhnya pementasan Wayang Orang Sriwedari, SISKS Paku Buwana XIV tampak hadir menyaksikan pertunjukan secara langsung bersama keluarga, sentono dalem, dan abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat, Kamis (24/9/2026) malam.

Kehadiran PB XIV malam itu bukan sekadar sebagai penonton biasa, melainkan menjadi ajang nostalgia napak tilas mengingat sejarah panjangnya di dunia seni pertunjukan sebelum bertakhta sebagai raja.

Keakraban makin terasa saat adegan punakawan berlangsung. Salah seorang pemain Wayang Orang Sriwedari secara spontan turun dari panggung dan menghampiri PB XIV untuk bersalaman.

Aksi ini langsung mencairkan suasana dan mengundang gelak tawa penonton, membuat sekat antara panggung dan tempat duduk seolah sirna sejenak.

Usai pertunjukan, PB XIV langsung menghampiri para pemain untuk memberikan semangat sekaligus berbincang hangat. Pertemuan itu menjadi semacam reuni kecil antara seorang raja yang kini memegang tanggung jawab adat dengan para seniman yang sebagian sudah dikelolanya sejak lama.

Koco, salah seorang pemain Wayang Orang Sriwedari yang juga abdi dalem Karaton Surakarta, teringat kenangan lamanya saat pernah satu panggung dengan PB XIV waktu masih bergelar GPH Mangkubumi dan KGPH Hangabehi.

“Saya teringat momen ketika KGPH Hangabehi memerankan tokoh buto atau raksasa. Kala itu, kita kerap tampil bersama BRM Parikesit Suryo Roseno (Bobby) dan BRM Bimo Rantas (kini KRMH Djoyo Adilogo) di panggung Karaton Surakarta, Candi Prambanan, hingga TMII Jakarta.” Ungkap Koco.

Di tengah kehangatan tersebut, PB XIV menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa. Menurutnya, pelestarian budaya tidak boleh hanya dimaknai sebagai upaya mempertahankan peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai kekuatan yang menghidupkan masyarakat masa kini dan mendatang.

“Seni pertunjukan memiliki potensi ekonomi kuat jika dikembangkan dalam ekosistem kreatif. Pertunjukan budaya dapat menjadi daya tarik wisata yang berdampak langsung pada sektor kuliner, kerajinan, transportasi, hingga UMKM.” Ungkap PB XIV Hangabehi.

Gedung Sriwedari malam itu juga tampak dipadati penonton dari kalangan milenial dan Gen Z. Hal ini memperlihatkan adanya ruang perjumpaan antara seni tradisi dan generasi muda, sekaligus menjadi tantangan agar seni tradisi dikemas relevan tanpa kehilangan akar budayanya.

Wayang Orang Sriwedari sendiri punya jejak panjang sejak zaman PB X, diawali dari mantan abdi dalem Pura Mangkunegaran hingga disiarkan melalui Solosche Radio Vereeniging pada 1926.

Kehadiran PB XIV malam itu menjadi bukti bahwa kebudayaan terus hidup lewat sinergi seniman, ruang pementasan, dan kepedulian generasi penerus.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌