Golek Montro dan Bedhaya Soerya Soemirat Mengiringi Sakralnya Dhaup Ageng

Sabtu, 07 November 2026 09:09 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Kusumawati

1002323185.jpg
Bedhoyo Soeryo Soemirat saat Dhaup Ageng Mangkunegaran (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Perhelatan akbar Pahargyan Dhaup Ageng Mangkunegaran di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Jumat (6/11/2026), tidak hanya menampilkan kemegahan prosesi adat, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi pelestarian seni tari klasik. 

Sebanyak enam belas abdi dalem putri dari Kawedanan Langen Praja tampil memukau membawakan dua mahakarya agung, yakni Golek Montro dan Bedhaya Soerya Soemirat.

Kehadiran kedua tarian ini membawa napas sejarah dan kedalaman makna yang berbeda. Golek Montro hadir sebagai simbol kehangatan penyambutan tamu, sementara Bedhaya Soerya Soemirat merajut ikatan emosional dan historis lintas generasi dalam keluarga besar Mangkunegaran.

Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Tjuk Susilo, M.P.A., menegaskan bahwa pementasan seni tari dalam momentum istimewa ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar hiburan perayaan.

"Seni tari dalam Dhaup Ageng bukan sekadar pelengkap perayaan. Setiap karya membawa pengetahuan, sejarah, dan nilai yang terus dijalankan oleh para abdi dalem serta Kawedanan Langen Praja," ungkap Tjuk Susilo.

Tari Golek Montro

Golek Montro, yang dibawakan oleh tujuh abdi dalem putri usai prosesi Panggih, menggambarkan sosok putri yang beranjak dewasa dalam menyambut tamu kehormatan. Tarian dengan karakter gerak yang lembut ini memiliki akar sejarah dari perjumpaan tradisi tari Mangkunegaran dan Yogyakarta pada masa pemerintahan Mangkoenagoro VII, yang pada tahun 2021 lalu resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Jawa Tengah.

Maestro tari Mangkunegaran, K.R.Ngt.T. Rusini, menjelaskan bahwa perjalanan Golek Montro mencerminkan eratnya hubungan lintas tradisi budaya yang terus dirawat hingga kini.

"Golek Montro berakar pada khazanah tari Yogyakarta dan kemudian berkembang di Mangkunegaran. Di sini, karya tersebut dipelajari, diolah, dan menjadi bagian dari tradisi penyambutan tamu," jelas Rusini.

Sementara itu, nuansa yang lebih personal terpancar lewat pementasan Bedhaya Soerya Soemirat oleh sembilan penari. Tarian ini diciptakan oleh Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo dengan iringan gubahan Sri Hastanto, yang pertama kali dipentaskan pada tahun 1990 dalam rangkaian pernikahan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX.

Tiga puluh enam tahun berselang, karya yang sama kembali megah mengiringi pernikahan putri mendiang Mangkoenagoro IX, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Sura. Kehadirannya menjadi jembatan hidup antargenerasi, di mana karya yang lahir dari momentum pernikahan orang tua kini mengantar langkah baru sang putri.

Rusini menambahkan, Bedhaya Soerya Soemirat memadukan kehalusan estetika bedhaya klasik dengan ketegasan karakter keprajuritan yang terinspirasi dari semangat perjuangan Mangkoenagoro I.

"Bedhaya ini membawa semangat perjuangan melalui gerak-gerak yang memiliki nuansa keprajuritan. Namun, kekuatan itu tetap disampaikan dalam tata gerak bedhaya yang halus dan terukur," tambahnya.

Melalui pergelaran Golek Montro dan Bedhaya Soerya Soemirat dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran, tradisi terbukti tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu. Dedikasi para abdi dalem putri di bawah naungan Kawedanan Langen Praja memastikan bahwa warisan luhur budaya terus hidup, dipelajari, dan diteruskan dari generasi ke generasi.