Makna Sakral Panggih, Awal Perjalanan Baru Gusti Sura dan Kanjeng Dimas

Kusumawati - Jumat, 06 November 2026 22:55 WIB
Balangan Gantal salah satu prosesi adat Panggih dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Suasana khidmat menyelimuti Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran pada Jumat, 6 November 2026. Prosesi Panggih Dhaup Ageng Mangkunegaran mempertemukan secara adat G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian (Kanjeng Dimas).

Momen sakral ini tidak hanya menandai langkah awal keduanya sebagai pasangan suami istri, tetapi juga merajut doa serta restu mendalam dari keluarga besar.

Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Tjuk Susilo, M.P.A., menjelaskan bahwa setiap tahapan dalam prosesi Panggih membawa filosofi luhur bagi kehidupan rumah tangga.

"Nilai utamanya adalah penerimaan keluarga, kerukunan, tanggung jawab, serta kesediaan kedua temanten untuk menjalani kehidupan bersama," ujarnya.

Rangkaian Prosesi Penuh Filosofi

Rangkaian acara dimulai dari persiapan terpisah hingga detik-detik pertemuan kedua temanten. Kehadiran Kanjeng Dimas diawali dengan Pisang Sanggan, yang menyimbolkan kesungguhan niat dan kesiapan memikul tanggung jawab pernikahan.

Atas perkenan S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, Gusti Sura dan Kanjeng Dimas kemudian dipertemukan (kapanggihaken) di hadapan para tamu dan keluarga.

Ritual dilanjutkan dengan Balangan Gantal, di mana kedua temanten saling melempar gulungan daun sirih sebagai lambang keterikatan batin.

Peran keluarga tampak semakin nyata melalui prosesi Sinduran oleh G.K.P. Mangkoenagoro IX yang menuntun pasangan ke pelaminan, serta Bobot Timbang yang menegaskan kesetaraan kedudukan keduanya dalam kasih sayang keluarga.

Membangun Rumah Tangga Berbasis Amanah

Pesan kehidupan bersama diteruskan melalui rangkaian Ngunjuk Degan, Kacar-Kucur, dan Dhahar Klimah.

  • Kacar-Kucur: Penyerahan hasil bumi dan uang sebagai simbol amanah serta pengelolaan rezeki rumah tangga.
  • Dhahar Klimah: Menyantap makanan bersama yang melambangkan kesediaan berbagi suka dan duka.

Melalui seluruh tata cara ini, Panggih Dhaup Ageng Mangkunegaran tidak hanya merayakan sebuah ikatan cinta, tetapi juga melestarikan tradisi luhur sebagai tuntunan hidup bagi Gusti Sura dan Kanjeng Dimas dalam membangun keluarga yang harmonis.

Editor: Kusumawati

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌