Geliat Industri Sangkar Burung Limbah Paralon Solo Menembus Pasar Global

Rabu, 01 Juli 2026 22:25 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001842005.jpg
Wawali Solo Astrid Widayani saat mengunjungi workshop Eank Sangkar Solo di Mojosongo (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, meninjau langsung sentra industri sangkar burung di Kelurahan Mojosongo pada Rabu (1/7/2026). Kunjungan lapangan ini merupakan bagian dari persiapan menjelang puncak Solo Batik Carnival (SBC) 2026 yang mengusung tema sentra industri unggulan kota. 

Di lokasi, Astrid mengapresiasi inovasi para perajin yang sukses menyulap limbah paralon, akrilik, dan material sisa lainnya menjadi sangkar burung bernilai seni dan ekonomi tinggi. Ia menilai kreativitas ini sebagai wujud nyata penerapan ekonomi sirkular yang ramah lingkungan.

"Hari ini saya melihat sentra industri sangkar burung di Mojosongo tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga karya seni bernilai tambah tinggi. Pemanfaatan limbah yang menembus pasar internasional ini merupakan potensi yang perlu terus kita dukung," ujar Astrid.

Astrid mengaku kagum karena pasar produk kerajinan ini mayoritas berada di luar daerah hingga mancanegara. Pemkot Surakarta berkomitmen mengintegrasikan promosi produk lokal ini ke dalam kalender event tahunan, termasuk SBC 2026, agar masyarakat semakin bangga menggunakan produk lokal.

Sementara itu, Eko Alif Muryanto, pemilik workshop Eank Sangkar Solo yang memanfaatkan limbah paralon, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan Wakil Wali Kota Solo tersebut.

"Kami sangat berterima kasih kepada Mbak Astrid yang berkenan meninjau langsung workshop kami. Harapan kami, kunjungan beliau bisa mendongkrak penjualan dan mempromosikan produk dari sentra sangkar burung di sini, baik berbahan limbah paralon, bambu, maupun kayu," kata Eko yang akrab disapa Eank Sangkar.

Eko berharap pemerintah daerah memberikan bimbingan dan perhatian konsisten untuk mendongkrak produktivitas para perajin. Terlebih, kawasan Mojosongo secara historis pernah menjadi salah satu sentra kerajinan sangkar burung terbesar di Indonesia.

Meskipun produk sangkar buatannya sudah berhasil menembus pasar Singapura, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Malaysia secara mandiri, Eko menilai dukungan promosi dari pemangku kebijakan tetap menjadi kunci utama untuk ekspansi pasar yang lebih luas ke depan.