Dukung Swasembada, Tani Merdeka Jateng Kejar Target 13.000 Hektare Tebu

Senin, 20 April 2026 16:40 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001588298.jpg
Ketum Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir saat konsolidasi dengan pengurus Tani Merdeka Solo Raya (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co)– Organisasi Tani Merdeka memperkuat barisan di wilayah Jawa Tengah guna mengawal swasembada pangan nasional tahun 2026. Selain mempertahankan produksi beras, organisasi ini kini membidik kebangkitan komoditas tebu dan jagung melalui sinergi lintas sektoral, termasuk dengan TNI dan Polri.

Ketua Umum Tani Merdeka, Don Muzakir, menegaskan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. Ia menginstruksikan seluruh pengurus daerah untuk terjun langsung menjadi pendamping petani, mencatat kendala lapangan, hingga melakukan monitoring lahan seperti yang telah berjalan di Pemalang.

"Indonesia pernah mengalami kejayaan gula, kami Tani Merdeka siap mendukung pemerintah dengan swasembada tebu. Kami siap berkolaborasi dengan TNI-Polri," ujar Don Muzakir dalam konsolidasi bersama pengurus Tani Merdeka se-Solo Raya, beberapa waktu lalu.

Fokus Dukung Perluasan Lahan

Senada dengan pusat, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Jawa Tengah, Wawan Pramono, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah memacu perluasan lahan tebu di Jateng. Hingga saat ini, luas lahan yang terdata telah mencapai 8.400 hektare dari target total 13.000 hektare.

"Kami optimistis target ini tercapai. Selain adanya pabrik gula baru, masih banyak fasilitas pabrik lama yang bisa dimanfaatkan," kata Wawan saat ditemui di Solo, Senin (20/4).

Selain tebu, DPW Jateng mengembangkan proyek percontohan berupa demplot pertanian terintegrasi (*integrated farming*) yang menggabungkan sektor perikanan, perkebunan, dan pengolahan pupuk mandiri. Proyek ini telah berjalan di Ungaran dan Colomadu, Karanganyar, dan ditargetkan akan merambah ke seluruh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di Jawa Tengah tahun ini.

Regenerasi Petani Muda

Tani Merdeka juga menaruh perhatian serius pada sektor SDM, khususnya regenerasi petani. Wawan menilai perlu ada perubahan pola pikir (*mindset*) agar generasi muda mulai meninggalkan cara-cara tradisional dan beralih ke modernisasi pertanian.

Sebagai langkah konkret, pihaknya akan mengirimkan delegasi petani muda, perempuan tani, dan pengurus daerah untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) di Bogor pada Mei mendatang. Setiap kabupaten akan mengirimkan tujuh orang perwakilan untuk mengikuti pelatihan selama empat hari.

"Diklat ini diharapkan mampu melahirkan penggerak pertanian modern yang lebih tangguh di daerah masing-masing," pungkas Wawan.