Triwulan Catha Ambya 9 ISI Solo Usung Atmosfer Magis di Mangkunegaran

Kusumawati - Rabu, 15 April 2026 14:33 WIB
Triwulan Catha Ambya 9 ISI Solo Hadirkan Suasana Magis di Pura Mangkunegaran (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Ada yang berbeda pada perhelatan Triwulan Catha Ambya 9 kali ini. Mengusung atmosfer magis, pentas seni yang digarap oleh mahasiswa ISI Solo ini digelar di luar kampus, tepatnya di Pamedan Pura Mangkunegaran, Sabtu (11/4).

Acara ini berkolaborasi dengan Tingalan Wiyosan Setu Pon untuk memperingati hari kelahiran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X.

Membawa tema “Tubuh sebagai Kolaborasi dan Interaksi”, acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dibuka dengan iringan klenengan gamelan khas Mangkunegaran yang sakral. Di tengah pertunjukan.

Suasana semakin hangat saat para abdi dalem melakukan prosesi Boga Sambrama, yakni pembagian jajanan pala pendem di atas tampah beralas daun pisang kepada penonton sebagai wujud syukur dan keramahan budaya Jawa.

Dalam perhelatan ini, hadir lima sajian tari yang memukau masyarakat:
1. **Tari Gambyong Maduretno:** Karya Pujiyani "Triplex" (2018) yang menonjolkan perpaduan apik antara gerak tari dan unsur vokal pesindhen.
2. **Tari Jemparingan:** Dibawakan oleh sepuluh penari Sanggar Soerya Soemirat, menggambarkan ketangkasan prajurit dalam berlatih menggunakan gendewa dan keris.
3. **Tari Bedhaya Mustika:** Sajian mahasiswa ISI Solo yang mengusung tembang pujian tentang keagungan bumi dan alam semesta sebagai sumber kehidupan.

4. **Tari Langen Asmara:** Sebuah tari bergenre *pasihan* yang memadukan kelembutan gaya Surakarta dan ketegasan gaya Yogyakarta dalam menggambarkan romantika sepasang kekasih.
5. **Beksan Bandayuda:** Sebagai puncak acara, tari wireng gagah karya Sunarno Purwalelono ini disajikan sebagai simbol pengendalian nafsu manusia melalui gerakan prajurit yang disiplin.

Sebelum sajian kedua dimulai, Gusti Raden Ajeng (GRAj.) Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura turut memberikan sambutan hangat kepada para tamu dan penonton yang hadir.

Kolaborasi antara ISI Solo dan Pura Mangkunegaran ini bukan sekadar tontonan, melainkan ruang dialog budaya lintas generasi. Melalui harmoni gerak dan suasana sakral Setu Pon, acara ini membuktikan bahwa tradisi tetap relevan dan mampu menyatukan mahasiswa, seniman, serta masyarakat luas.

Diharapkan, sinergi antara ISI Solo dengan Pura Mangkunegaran ini terus berlanjut menjadi jembatan pelestarian kebudayaan di masa depan.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS