Walikota Respati Kampanye Pemilahan Sampah "Bosok dan Ora Bosok" di CFD

Kusumawati - Minggu, 07 Juni 2026 12:53 WIB
Walikota Solo Respati kampanye pilah sampah di CFD (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta dalam membatasi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo mulai membuahkan hasil positif. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta periode Maret hingga Mei 2026, sejumlah kelurahan sukses menekan volume buangan limbah mereka secara signifikan.

Kelurahan Mojosongo mencatatkan penurunan tertinggi yang mencapai 42 persen, disusul Kelurahan Kadipiro sebesar 35 persen, Kelurahan Nusukan 26 persen, serta Kelurahan Banjarsari dan Banyuanyar yang masing-masing berhasil menekan angka pembuangan sebesar 24 persen.

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyampaikan capaian tersebut di sela-sela Kampanye Pilah dan Olah Sampah Kota Surakarta yang digelar di ajang Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (7/6/2026).

"Dari data yang disampaikan DLH, sudah ada pengurangan yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat mulai tumbuh dan upaya pengurangan sampah dari sumbernya mulai berjalan," ujar Respati.

Meski demikian, Wali Kota memberikan catatan evaluasi bagi beberapa wilayah yang belum menunjukkan penurunan volume sampah yang berarti, seperti Kelurahan Ketelan, Kepatihan Kulon, Panularan, Karangasem, dan Kepatihan Wetan.

Kondisi ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh wilayah untuk menggenjot gerakan pilah sampah sebelum Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang pengelolaan sampah resmi diberlakukan.

Edukasi Sederhana lewat Rumus "Bosok dan Ora Bosok"

Untuk mempercepat capaian target di seluruh kelurahan, Respati Ardi mengajak masyarakat melatih kebiasaan memilah limbah dari langkah yang paling mudah di lingkup rumah tangga. Menurutnya, edukasi lingkungan kepada publik tidak perlu langsung menggunakan sistem yang rumit agar bisa langsung dipraktikkan di dapur masing-masing.

"Kalau langsung kita sosialisasikan pemilahan sampai lima kategori tentu sulit. Maka masyarakat kita edukasi dari awal dulu, yang paling sederhana, yaitu membedakan sampah yang bisa membusuk dan yang tidak bisa membusuk," jelas Respati.

Melalui diksi lokal yang akrab di telinga warga, ia meminta masyarakat cukup memisahkan antara limbah organik dan anorganik. Dengan memisahkan kedua jenis materi tersebut, beban sampah yang berakhir di TPA otomatis akan berkurang secara drastis.

"Bahasa sederhananya, sampah *bosok* (membusuk) dan sampah yang *ora iso bosok* (tidak bisa membusuk). Setelah dipilah, nanti akan diolah lebih lanjut oleh kelompok-kelompok pengelola sampah," imbuhnya.

Dorong Potensi Ekonomi Sirkular

Pasca-terbitnya Perwali nanti, Pemkot Surakarta bakal mendorong pembentukan kelompok swadaya masyarakat secara masif yang fokus pada tata kelola limbah di tingkat wilayah. Sektor ini dinilai memiliki potensi ekonomi sirkular yang tinggi sekaligus membuka peluang usaha padat karya baru bagi warga.

Dalam kampanye tersebut, Respati bersama jajaran OPD dan Forkopimda turut mempraktikkan langsung cara pembuatan alat komposter sederhana serta meninjau proses daur ulang sampah organik lewat media budidaya maggot.

Sampah organik (bosok) nantinya dapat diolah menjadi pupuk kompos, pupuk organik cair (POC), hingga pakan ternak. Sementara sampah anorganik (ora iso bosok) akan disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomis.

Wali Kota optimistis warga Surakarta mampu menjadi pelopor gerakan tata kelola kebersihan berbasis rumah tangga yang berkelanjutan. Di akhir acara, ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para petugas DLH, jajaran kelurahan, serta berbagai komunitas lingkungan yang terus konsisten bergerak menjadi garda terdepan pelindung kebersihan Kota Bengawan.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS