Karaton Surakarta-Negara Kembali Bersinergi, Pasang Baliho Dengan Foto Fadli Zon

Kusumawati - Sabtu, 06 Juni 2026 22:37 WIB
Baliho sinergitas Karaton Surakarta (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Pemasangan baliho bertuliskan “Karaton Surakarta Wajib Dilestarikan” di kawasan Gapura Gladag, pintu masuk sisi utara Karaton Surakarta Hadiningrat, memantik respons positif dari KPH Eddy Wirabhumi.

Menurutnya, baliho tersebut bukan sekadar pajangan visual, melainkan sebuah simbol strategis dari pulihnya hubungan sejarah antara pihak keraton dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui Kementerian Kebudayaan.

KPH Eddy Wirabhumi menegaskan bahwa keterikatan antara keraton dan negara memegang peranan krusial dalam menjaga ketahanan budaya bangsa. Dalam sistem pertahanan nasional, unsur budaya sering kali menjadi fondasi kuat yang menjaga identitas masyarakat agar tidak mudah goyah.

“Ini adalah menyambungkan hubungan keraton dengan negara, keraton dengan pemerintah. Memang dimulai dari Kementerian Kebudayaan, tetapi jangan lupa bahwa di antara elemen-elemen penting pertahanan negara, pertahanan budaya justru menempati posisi yang sangat penting,” ujar KPH Eddy Wirabhumi.

Sebagai bangsa yang berdiri di atas pilar Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia mendapatkan pasokan kekuatan utama dari keberagaman budayanya. Oleh karena itu, pusat peradaban seperti Karaton Surakarta dinilai sudah sepantasnya mendapatkan atensi penuh serta pemeliharaan berkala dari negara.

Simbol Komunikasi dan Revitalisasi Nyata

Baliho yang berdiri di kawasan Gladag tersebut memuat pesan krusial mengenai pelestarian Karaton Surakarta sebagai Cagar Budaya Nasional. Di dalamnya, tampak figur Menteri Kebudayaan RI, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., berdampingan dengan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan dan GKR Koes Moertiyah Wandansari.

Bagi Eddy, esensi utama dari baliho tersebut adalah substansi misinya: memperkuat posisi karaton sebagai episentrum kebudayaan nasional. Pulihnya jalur komunikasi antara pihak karaton dan pemerintah pun kini telah membuahkan hasil konkret, salah satunya lewat program revitalisasi kawasan yang menyentuh dua aspek sekaligus.

* Revitalisasi Fisik: Pembenahan, pemugaran, dan perawatan infrastruktur serta bangunan bersejarah di area keraton.

* Revitalisasi Nonfisik: Penguatan kembali nilai-nilai tradisi, adat istiadat, serta fungsi karaton sebagai pusat edukasi budaya.

“Terbukti begitu tersambung langsung masuk revitalisasi. Dari revitalisasi fisik sekarang sudah menuju revitalisasi nonfisik,” tambahnya.

Momentum Historis Sejak 1946

Menutup penjelasannya, KPH Eddy Wirabhumi mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pihak terkait untuk mengesampingkan riak-riak kecil yang berpotensi menghambat visi besar ini. Ia mengingatkan bahwa proses rekonsiliasi dan penyambungan kembali hubungan ini memakan waktu yang sangat panjang.

“Perjuangan ini sudah sejak tahun 1946. Sekarang tahun 2026, artinya sudah sekitar 80 tahun. Kalau kemudian ini menjadi titik awal tersambungnya kembali Karaton dengan negara, tentu harus kita syukuri bersama,” ungkapnya hangat.

Momentum emas ini diharapkan mampu menjadi batu pijakan yang kokoh bagi sinergi karaton dan pemerintah di masa depan, memastikan Karaton Surakarta tetap hidup dan lestari sebagai warisan agung peradaban bangsa Indonesia.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS