Kirab Suro Puro Mangkunegaran Sakral, Gubernur Jateng, Politisi Aria Bima dan Walikota Gibran Ikuti Topo Bisu

Kusumawati - Sabtu, 30 Juli 2022 07:28 WIB
Gubernur Ganjar bersama istri, Walikota Surakarta dan wawali Surakarta ikuti kirab Suro Pura Mangkunegaran (soloaja)

SOLO (Soloaja.co) - Kirab Pusaka Dalem untuk menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro Ehe 1956 digelar Pura Mangkunegaran pada hari Jumat, 29 Juli 2022. Sejumlah tokoh masyarakat ikut hadir dalam upacara yang dilakukan dengan topo bisu berkeliling mengelilingi Pura Mangkunegaran.

Tokoh yang hadir antara lain Gubernur Jawa Tengah dan ibu Atiqoh Ganjar Pranowo, Anggota DPRRI Aria Bima, Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka, Wawali Teguh Purnomo dan sejumlah kerabat Mangkunegaran. Ada pula artis Jefri Nichol yang ikut prosesi dengan menggunakan beskap Jawa.

Kirab Pusaka Dalem diawali dengan prosesi permohonan izin kepada SIJ. KGPAA Mangkunegoro X untuk melaksanakan kirab, oleh KRMH Roy Rajasa Yamin yang bertindak sebagai pemimpin kirab.

Yang kemudian iring-iringan kirab di mulai pada pukul 19.00 WIB dengan rute yang dimulai dari gerbang utama Puro Mangkunegaran di Jalan Ronggowarsito, berbelok ke kanan ke Jalan Kartini, Jalan R.M. Said, Jalan Teuku Umar, dan kembali ke Puro Mangkunegaran.

KRMH. Roy Rahajasa Yamin bertindak sebagai cucuk lampah diikuti oleh keluarga, kerabat, dan abdi dalem Mangkunegaran, tamu undangan, serta masyarakat umum.

Setelah pelaksanaan Kirab Pusaka Dalem, kegiatan akan dilanjutkan dengan prosesi semedi yang akan dilaksanakan di Pendapa Agung dan Pringgitan Pura Mangkunegaran hingga Sabtu, 30 Juli 2022 / 1 Suro dini hari.

Selama prosesi Kirab Pusaka Dalem, para peserta tidak diperbolehkan memakai alas kaki dan berbicara dengan makna bahwa manusia selalu berhubungan dengan bumi dan manembah (berbakti atau mengabdi) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam keadaan suci dan sebagai bentuk penguasaan diri agar tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.

“Prosesi semedi dilaksanakan dengan tujuan agar manusia mengingat siapa dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan sebagai bentuk kewaspadaan dari segala bentuk godaan dan perbuatan buruk.” Kata KGPAA Mangkunegoro X.

Kerabat, tamu undangan, dan masyarakat umum yang mengikuti Kirab Pusaka Dalem dan prosesi semedi diwajibkan mengenakan ageman jawi jangkep dasar cemeng (hitam) Dhuwungan bagi laki-laki dan ageman jawi nyampingan ukel tradisi Jawa cunduk penyu bagi perempuan, dengan ketentuan selain mereka yang merupakan Pangeran dan Bupati Sepuh tidak diperkenankan mengenakan batik motif parang, motif lereng, dan pakaian berbahan beludru.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan upacara ini merupakan bagian dari pelestarian tradisi dan budaya, secara otomatis akan menjadi daya tarik wisata. Baginya, Kirab Pusaka Dalem yang dilaksanakan secara terbuka, menunjukkan betapa Keraton lebih dekat dengan masyarakat.

“Suasananya terasa meriah. Sambutan masyarakat bagus. Keraton dengan kampung menjadi lebih dekat begitu. Ya suasana kulturalnya sangat kuat,” tutur Ganjar.

Hal senada disampaikan Walikota Gibran didampingi Wakil Walikota Teguh yang juga ikut berjalan keliling mengikuti prosesi kirab.

“Berjalan khidmat acaranya. Tadi ikut jalan keliling baru pertama kali saya ikut (kirab), penontonnya juga banyak,” ungkap Gibran usai kirab.

Editor: Redaksi
Tags kirab suroBagikan

RELATED NEWS