Kagum Digitalisasi Monumen Pers, Dirjen IKP Kominfo : Amerika Punya Newseum Kita Punya Moumen Pers

Kusumawati - Senin, 25 Oktober 2021 21:34 WIB
Usman Kansong Dirjen IKP Kominfo saat mengunjungi Monumen Pers Nasional di Solo

SOLO (Soloaja.co) - Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen IKP Kemenkominfo) RI Usman Kansong, yang berkesempatan mengunjungi Monumen Pers, yang ada di Solo, Senin 25 Oktober 2021.

"Ini saya baru pertama kali datang ke Monumen Pers, saya suka sejarah dan suka mengunjungi museum. Monumen pers mengandung nilai historis yang harus dirawat dan penting bagi sejarah pers indonesia sebab memiliki banyak koleksi seperti Radio Kambing," tutur Usman di sela kunjungan, Senin (23/10/2021).

Usman mengapresiasi adanya Monumen Pers yang dikelola dengan pendekatan kekinian seperti penggunaan media digital interaktif dengan berbagai fitur sehingga masyarakat yang berkunjung bisa melihat tokoh-tokoh pers, perkembangan pers, hingga koleksi koran yang ada di daerah-daerah.

"Ini sangat bernilai sejarah, bisa menjadi rujukan bagi siapapun yang ingin mengetahui sejarah pers Indonesia, bagi yang ingin meneliti dan mengetahui sejarah pers. Tidak afdol kalau tidak mengunjungi monumen pers di Solo," tandas Usman.

Ia mengimbau agar Monumen Pers terus dipublikasikan ke masyarakat melalui media konvensional, melakukan kunjungan ke kampus-kampus, hingga memperbanyak event-event supaya museum ini makin dikenal.

"Jangan sampai ada orang yang tidak tahu bahwa kita punya Monumen Pers. Kalau perlu mencontoh museum-museum di luar negeri seperti Newseum di Amerika Serikat, yaitu museum berita yang setiap hari dikunjungi oleh banyak sekali orang dan dekat dengan museum-museum lain di pusat kota Washington DC," paparnya.

Newseum adalah museum berita dan jurnalisme di Washington DC Amerika Serikat yang diresmikan pada 18 April 1997. Nama Newseum merupakan gabungan dari News dan Museum. Tempat ini berisi berbagai dokumentasi dan presentasi berbagai tahapan perkembangan pers dan jurnalistik.

Usman berharap, setelah berkunjung ke Monumen Pers, orang pulang tidak hanya membawa kenangan di kepala tetapi juga ada buklet atau produk digital sebagai cinderamata yang mengingatkan orang pada monumen pers.

"Apalagi kalau ada bukunya yang bisa menjadi koleksi para wartawan, para peneliti, para sejarawan. Kalau boleh di sini juga ada toko buku seperti museum-museum di luar negeri, ini saya kira bisa ditiru," harap Usman.

Terakhir, Usman juga mendukung program reformasi birokrasi menuju Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (ZI WBK). Sebab dengan transparansi atau keterbukaan akan menunjukkan good and clean government.

"ini menunjukkan Monumen Pers sebagai aset yang dikelola pemerintah harus transparan, menjadi zona bebas korupsi. Saya mendukung sekali semoga segera terealisasi segala hal yang dibutuhkan untuk menjadi ZI WBK harus didukung," tegas Usman.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS