Ika Yuniati - Ni’matul Faizah Terpilih Pimpin AJI Surakarta

Kusumawati - Senin, 02 Februari 2026 17:46 WIB
Pengurus Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Solo (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Konferensi Kota (Konferta) VIII Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta yang digelar di Hetero Space Solo, Minggu (1/2/2026), melahirkan catatan sejarah baru.

Untuk pertama kalinya, organisasi profesi jurnalis ini dipimpin oleh duet perempuan, Ika Yuniati sebagai Ketua dan Ni’matul Faizah sebagai Sekretaris, secara aklamasi untuk periode 2026-2029.

Kehadiran kepemimpinan perempuan di puncak organisasi ini mendapat apresiasi langsung dari Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida. Menurutnya, terpilihnya duet Ika dan Niva (sapaan akrab keduanya) adalah sinyal positif penguatan eksistensi jurnalis perempuan di tengah tantangan profesi yang kian kompleks.

“Saya senang, berarti kekuatan perempuan semakin kelihatan. Mereka lebih percaya diri, apalagi dengan kondisi yang berat seperti sekarang. Saya berharap kepengurusan baru ini dapat menaungi lebih banyak jurnalis,” ujar Nany usai mengawal jalannya konferensi.

Menolak Bungkam di Era Otoritarianisme Digital

Bukan sekadar regenerasi, Konferta VIII ini membawa pesan serius melalui tema “Menolak Bungkam di Era Otoritarianisme Digital”. Tema ini diangkat sebagai respons atas bergesernya pola represi terhadap pers dari serangan fisik ke ruang digital.

Ni’matul Faizah, yang juga menjabat sebagai Sekretaris terpilih, menegaskan bahwa ancaman algoritma kini menjadi tantangan nyata bagi kebebasan berekspresi.

“Jika dahulu suara kita mungkin dihadapkan pada pembatasan fisik, saat ini tantangan itu bertambah ke ruang-ruang algoritma,” tutur Ni’matul.

Darurat Serangan Siber dan Digital

Kekhawatiran AJI Surakarta didukung oleh data Catatan Tahun 2025 AJI Indonesia yang menunjukkan tren memburuknya kebebasan pers:
* 89 Kasus Kekerasan: Total kekerasan terhadap jurnalis sepanjang 2025.
* 29 Kasus Serangan Digital: Rekor tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
* Beragam Modus: Mulai dari tekanan take down berita, doxing (penyebaran data pribadi), serangan siber, hingga jeratan pasal karet multitafsir.

Solidaritas Sebagai Benteng Terakhir

Menghadapi intimidasi digital yang kian canggih, AJI Surakarta menekankan pentingnya penguatan solidaritas antarjurnalis. Solidaritas dianggap sebagai kunci agar tidak ada jurnalis yang merasa berjuang sendirian saat menjalankan tugas profesinya di wilayah Solo Raya.

“Meskipun teknologi bisa digunakan penguasa untuk menekan, solidaritas antarjurnalis harus lebih kuat,” tegas Ni’matul.

Konferta VIII ditutup dengan komitmen anggota untuk menyusun strategi advokasi dan peningkatan kapasitas jurnalis dalam menghadapi tantangan tiga tahun ke depan, sembari tetap menjunjung tinggi tripanji AJI: kemerdekaan pers, profesionalisme, dan kesejahteraan jurnalis.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS