Hari Kartini UNS, Perkuat Peran Perempuan sebagai Agen Perubahan
SOLO (Soloaja.co) — Dalam suasana penuh semangat kebersamaan, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan peringatan Hari Kartini sekaligus merayakan Dies Natalis ke-50 UNS di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, Rabu (23/4).
Momentum "usia emas" ini menjadi pijakan bagi UNS untuk memperkuat komitmen terhadap nilai kesetaraan, inklusivitas, dan pemberdayaan perempuan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS, Prof. Ir. Dody Ariawan, S.T., M.T., Ph.D., dalam sambutannya menekankan bahwa semangat Kartini tetap relevan di masa kini, terutama dalam mendorong kesetaraan akses pendidikan dan peran aktif perempuan di berbagai sektor. Ia menyebutkan bahwa UNS terus bertransformasi menjadi ruang yang adil dan berbasis merit.
"Dalam beberapa tahun terakhir, UNS mencatat kemajuan dalam kepemimpinan perempuan. Hal ini dibuktikan dengan terisinya sejumlah posisi strategis oleh perempuan, termasuk hadirnya Wakil Rektor perempuan pertama pada periode 2024–2029," terang Prof. Dody. Menurutnya, hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan di kampus didasarkan pada kompetensi dan integritas, bukan gender.
Fokus pada Lingkungan
Selain isu kepemimpinan, peringatan tahun ini menonjolkan peran perempuan dalam sektor ekologi melalui talk show bertema “Pemberdayaan Perempuan dalam Pelestarian Lingkungan.” Ketua DWP UNS, Widiastuti Hartono, melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh sekitar 200 peserta.
"Kami berharap perempuan tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, tetapi menjadi penggerak utama dalam pelestarian alam demi generasi mendatang," lapor Widiastuti.
- Tak Sekadar Penenang, Ini 5 Khasiat Teh Chamomile
- Dugaan Ijazah Palsu Mencuat di Ujian Profesi Advokat PERADI Surakarta
Hadir sebagai narasumber utama, Staf Khusus Bidang Perempuan dan Politik KemenPPPA, Dra. Siti Nia Nurhasanah Sjarifudin, memberikan wawasan mengenai pentingnya pemberdayaan perempuan secara nyata.
Diskusi tersebut menyoroti tantangan struktural yang masih dihadapi perempuan, mulai dari stereotip hingga masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Meski peran perempuan sangat besar, terutama sebagai penopang ekonomi keluarga dan pengambil keputusan, seringkali kontribusi mereka di sektor informal belum sepenuhnya diakui dalam pendataan resmi.
Melalui kegiatan ini, UNS berharap dapat melahirkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang inklusif bagi semua pihak.
