Eko Pece Dikukuhkan Guru Besar ISI Surakarta, Usung Konsep Koreografi Epistemik
SOLO (Soloaja.co) — Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Koreografi di Pendopo Joyokusumo, ISI Surakarta, Rabu (28/10/2026) malam.
Eko Supriyanto yang juga dikenal dengan Eko Pece merupakan Seniman dunia yang karyanya mendunia. Ia pernah menjadi koreografer penyanyi Madonna dan terlibat dalam film Lion King.
Pengukuhan ini menjadi momentum bersejarah bagi ISI Surakarta karena Prof. Eko Supriyanto dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-23 sekaligus profesor pertama di institusi tersebut yang melalui jalur kekaryaan seni.
Acara khidmat ini dihadiri oleh jajaran senat akademik, Rektor ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala, sivitas akademika, serta sejumlah tokoh penting nasional dan daerah, di antaranya perwakilan kementerian, kepala daerah, seniman, hingga budayawan.
- Dua Mahasiswa UNS Raih Medali di APG 2026, Evi Emas dan Michael Perak
- Silaturahmi ke PWI Surakarta, Partai Demokrat Buka Ruang Kolaborasi dengan Media
Koreografi sebagai Pengetahuan: Dari Telapak Kaki Menuju Epistemik
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Koreografi sebagai Pengetahuan: Dari Telapak Kaki Menuju Koreografi Epistemik", Prof. Eko memaparkan gagasan konseptual bahwa koreografi bukan sekadar menyusun gerak tubuh di atas panggung, melainkan sebuah praktik inkuiri yang mampu menghasilkan pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa Koreografi Epistemik menempatkan tubuh sebagai subjek yang mengetahui, lanskap sebagai kondisi aktif penciptaan, komunitas sebagai mitra epistemik, serta perawatan (care) sebagai tanggung jawab metodologis.
"Temuan yang saya ajukan adalah bahwa koreografi dapat merancang kondisi epistemik: menentukan siapa yang mengetahui, bagaimana pengetahuan diuji melalui tubuh, lanskap, material, dan komunitas, serta kepada siapa pengetahuan itu harus dipertanggungjawabkan," ungkap Prof. Eko dalam orasinya.
Gagasan ini lahir dari rekam jejak panjang perjalanan kekaryaannya yang mendunia, mulai dari Cry Jailolo, BALABALA, SALT, Ibu-Ibu Belu, Ari-Ari, KASE SEKA, hingga karya-karya berbasis ekologis seperti Penari Petani, EcoSoreng, dan persiapan karya global CUT / BURN / RESONATE. Melalui karya-karya tersebut, ia membuktikan bahwa alam—baik laut, perbatasan, maupun ladang—bukan sekadar latar pasif, melainkan elemen yang ikut mengoreografi tubuh dan proses penciptaan.
- Sukoharjo Gelar Pilkades126 Desa, Siagakan 458 TPS
- BRI Salurkan KUR Rp144 Triliun, Perkuat Produktivitas UMKM Nasional
Arsitektur Pendidikan 3D dan Ekodramaturgi
Selain memperbarui diskursus seni pertunjukan melalui kerangka metodologis 3R (re-visiting, re-questioning, re-interpreting) dan choreography of care (etika perawatan), Prof. Eko juga menawarkan arsitektur pendidikan seni berbasis 3D:
- Desain Performatif (S1): Fokus pada bagaimana gagasan diubah menjadi pengalaman artistik yang terstruktur.
- Desain Budaya (S2): Memperluas pembacaan karya dengan meneliti konteks sosial, lingkungan, mitra, etika, dan dampaknya.
- Desain Kritikal (S3): Menguji asumsi disiplin ilmu, membongkar relasi kuasa, serta memberikan kontribusi konseptual yang dapat diperdebatkan di tingkat global.
Apresiasi Rektor ISI Surakarta
Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas capaian gemilang Prof. Eko Supriyanto. Ia menilai kehadiran guru besar dari jalur kekaryaan seni ini memperkuat kedudukan penciptaan seni sebagai bagian integral dari pengembangan ilmu pengetahuan.
- Merangkul Generasi Muda, Membangun Polisi Masa Depan
- GSI dan Pemuda Solo Gelar Refleksi Sumpah Pemuda di Tugu Lilin Solo
"Pengalaman internasional Prof. Eko—mulai dari terlibat dalam tur dunia Madonna, produksi The Lion King, hingga karya-karya lintas budaya—menunjukkan hubungan yang erat antara pendidikan tinggi dan praktik kesenian global. Pendekatan ekodramaturgi dan koreografi epistemik yang dikembangkannya adalah warisan akademik penting yang dapat dipelajari dan diuji oleh generasi berikutnya," ujar Rektor ISI Surakarta.
Sidang senat terbuka yang diselingi dengan pementasan artistik (lecture performance) dari para penari dan seniman pendukung ini ditutup dengan doa bersama, menandai babak baru kontribusi pemikiran dan kekaryaan Prof. Eko Supriyanto bagi perkembangan seni budaya Indonesia dan dunia.
