Nyadran di Kotagede Tedjowulan Doakan Keraton Rukun

Kusumawati - Minggu, 01 Februari 2026 14:50 WIB
Keraton Surakarta Nyadran di Makam Kotagede Yogyakarta (Soloaja)

KOTAGEDE (Soloaja.co) – Suasana khidmat menyelimuti ritual Nyadran Keluarga Besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Makam Raja-raja Mataram Islam, Kotagede, Minggu (1/2/2026). Kedatangan rombongan yang dipimpin KGPH Panembahan Agung Tedjowulan tersebut bertepatan dengan turunnya hujan lebat yang membasahi bumi Yogyakarta.

Meski diguyur hujan, Panembahan Agung Tedjowulan mengaku bersyukur. Ia memaknai rintik hujan tersebut sebagai berkah, sembari memanjatkan doa agar segenap keluarga besar Keraton Surakarta senantiasa diberikan kesehatan dan kembali merajut kerukunan.

"Semoga (keluarga besar keraton) kembali rukun, akur, kompak, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama serta masa depan keraton," ujar Panembahan Agung di sela-sela kegiatannya.

Prosesi Ziarah dan Simbolisme Sesaji

Rombongan Sentanadalem dan Abdidalem memasuki kompleks makam dengan dipimpin oleh Gusti Kangjeng Ratu Mas, istri Panembahan Agung. Di barisan depan, para Abdidalem juru kunci tampak membawa uba rampe berupa bunga dan aneka sesaji sebagai kelengkapan ritual ziarah di Bulan Ruwah Tahun Dal 1959 ini.

Sementara rombongan berziarah ke dalam pusara, Panembahan Agung menunggu di Bangsal didampingi juru bicaranya, Kangjeng Pakoenegoro dan Kangjeng Karyonagoro. Mereka tampak berbincang hangat mengenai langkah-langkah strategis masa depan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Patahnya Beringin Peninggalan Sunan Kalijaga

Dalam kesempatan tersebut, Pangarsa Abdidalem Juru Kunci Pasarean Kotagede, KRT Pujodipuro, melaporkan sebuah peristiwa alam yang mengejutkan. Sebuah pohon beringin keramat di kompleks makam diketahui patah setelah diterjang hujan lebat pada Kamis (29/1) lalu.

Pohon tersebut bukan sekadar tanaman biasa. Menurut Pujodipuro, beringin itu ditanam langsung oleh Kangjeng Sunan Kalijaga sebagai pertanda berdirinya kerajaan besar di Alas Mentaok, yakni Mataram Islam yang dipimpin Panembahan Senopati.

"Tanah perdikan untuk Mataram Islam itu merupakan pemberian Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Mataram IV (Panembahan Senopati)," terang Pujodipuro menceritakan sejarah turun-temurun kawasan tersebut.

Dawuhdalem: Bersihkan dan Doakan Kebaikan

Menanggapi patahnya batang pokok beringin berusia ratusan tahun tersebut, Panembahan Agung Tedjowulan memberikan perintah (Dhawuhdalem) agar area tersebut segera dibersihkan dengan sebaik-baiknya.

"Bersihkan sebaik-baiknya. Dan doakan semoga peristiwa itu menjadi penanda kebaikan bagi Dinasti Mataram Islam secara umum, dan Keluarga Besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat secara khusus," seru Panembahan Agung yang langsung dijawab dengan penuh kepatuhan oleh juru kunci.

Usai merampungkan prosesi di Kotagede, Panembahan Agung beserta rombongan melanjutkan perjalanan religi menuju Pajimatan Imogiri saat hujan mulai mereda. Ritual nyadran ini merupakan bagian dari rangkaian ziarah leluhur yang dilaksanakan secara bergelombang oleh kerabat keraton setiap menjelang bulan Ramadan.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS