Mahasiswa DKV ISI Surakarta Pamerkan 'AVATRA' di Malaysia

Kusumawati - Kamis, 26 Februari 2026 20:08 WIB
Gilbert mahasiswa DKV ISI Solo pamerkan karya AVATRA digitalisasi batik di Malaysia (Soloaja)

MALAYSIA (Soloaja.co) – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Surakarta angkatan 2023, Gilbert Gohnarso, sukses menembus panggung internasional.

Karyanya berhasil lolos kurasi dan dipamerkan dalam ajang International Art & Design Exhibition METAVERSE yang berlangsung di Galeri Seni Puncak A & B, UiTM Puncak Alam, Malaysia, 12 Februari hingga 12 Maret 2026.

Pameran bergengsi ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakulti Seni Lukis & Seni Reka UiTM Malaysia dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Sebanyak 120 karya dari berbagai negara turut dipajang dalam gelaran yang mengeksplorasi ruang virtual tersebut.

AVATRA: Transformasi Batik di Ruang Digital

Gilbert, yang saat ini tengah mengikuti program pertukaran mahasiswa Asian International Mobility for Students (AIMS) di UiTM, mengusung karya berjudul "AVATRA". Judul ini diambil dari istilah avatar digital sebagai perwujudan identitas manusia di masa depan.

Dalam karyanya, Gilbert menggabungkan teknik digital illustration dengan generative visual. Ia melakukan riset mendalam terhadap motif batik Nusantara yang kemudian diolah kembali secara digital menjadi pola cahaya dan tekstur futuristik.

“Prosesnya dimulai dari riset visual motif batik, yang diolah ulang melalui teknik layering, compositing, hingga glowing effect. Batik tidak lagi sekadar ornamen fisik, tapi bertransformasi menjadi struktur data visual yang menyatu dengan figur virtual,” ungkap Gilbert dalam rilisnya, Kamis (26/2/2026).

Eksplorasi Estetika Futuristik

Di bawah bimbingan dosen DKV ISI Surakarta, Basnendar Herry Prilosadoso, Gilbert menonjolkan detail anatomi wajah avatar yang diperkuat dengan elemen warna neon dan partikel cahaya. Penggunaan latar berbasis grid mempertegas suasana ruang virtual yang imaterial dan interaktif.

Karya ini membawa pesan kuat bahwa budaya tidak bersifat statis. Batik sebagai warisan leluhur terbukti mampu berevolusi dan tetap relevan di era digital. Melalui perpaduan masa lalu dan imajinasi masa depan, Gilbert ingin menunjukkan kekuatan identitas budaya di tengah ekosistem metaverse.

Pijakan di Ranah Seni Internasional

Bagi Gilbert, pencapaian ini bukan sekadar pameran, melainkan ajang dialog seni internasional. Mahasiswa asal Medan ini berharap pengalamannya selama mengikuti Inbound Exchange Program di Malaysia dapat menjadi pijakan untuk pengembangan praktik berkarya yang lebih matang di masa depan.

Keberhasilan Gilbert menjadi bukti nyata dukungan institusi terhadap kompetisi luar kampus, sekaligus menunjukkan daya saing mahasiswa Indonesia dalam mendorong pertukaran gagasan lintas budaya di level global.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS