Mahasiswa Asing Kagum Pertunjukan Wayang Kulit Dies Natalis ke-50 UNS

Kusumawati - Minggu, 14 Juni 2026 22:04 WIB
Wawali Astrid Apresiasi KTA Digital PUS, Praktis Dilengkapi Barcode QRIS Hari Donor Darah Sedunia, PMI Surakarta Layani 315 Pendonor di Solo Square Mall (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Perayaan Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berlangsung meriah dan sarat budaya. Pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang kondang Ki Purbo Asmoro, S.Kar., M.Hum., sukses memukau ratusan penonton di Halaman Gedung dr. Prakosa UNS, Sabtu (13/6).

Menariknya, pertunjukan nirlaba ini tidak hanya menyedot perhatian warga lokal, melainkan juga memikat para mahasiswa internasional yang tengah menempuh studi di kampus benteng budaya tersebut.

Berbagai unsur pertunjukan mulai dari ketukan gamelan, alunan suara sinden, hingga kepiawaian dalang menjadi daya tarik magis tersendiri bagi mereka.

Jembatani Kendala Bahasa lewat Pendampingan

Menyadari adanya sekat bahasa, pihak panitia menerjunkan strategi khusus agar para mahasiswa asing dapat menikmati esensi cerita. Sepuluh mahasiswa dari Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS ditugaskan khusus sebagai pendamping dan penerjemah jalannya cerita secara langsung.

Langkah ini dinilai sangat efektif untuk mengupas tuntas lakon *Pandhawa Labuh* yang dibawakan malam itu. Para pendamping dengan telaten menjelaskan setiap jengkal dialog dan filosofi tokoh kepada audiens internasional.

“Kami memang ditugaskan untuk memfasilitasi mahasiswa internasional yang kesulitan memahami cerita dalang. Kami senang melihat antusiasme mereka yang bertahan menyaksikan pertunjukan ini bahkan hingga dini hari,” ujar salah satu pendamping dari Sastra Daerah FIB, Muhammad Syaifulloh.

Jadi Media Diplomasi Budaya Global

Kehadiran para pemandu ini mendapat apresiasi tinggi dari para mahasiswa asing. Aina Natacha Randriamalala, mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa Inggris asal Madagaskar, mengaku sangat terbantu untuk menyelami kebudayaan Jawa.

* Pengalaman Pertama: Aina mengaku lewat wayang kulit ini dirinya menjadi tahu paket lengkap kesenian Jawa, mulai dari wujud wayang, gamelan, hingga peran sinden.
* Apresiasi Mendalam: Meski awalnya bingung dengan bahasa dalang, pendampingan dari mahasiswa lokal membuatnya bisa menikmati estetika pertunjukan secara utuh.

Nostalgia kebudayaan juga dirasakan oleh Anwar Ashiru Danburji. Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2023 asal Nigeria ini mengaku ini merupakan kali kedua dirinya menonton wayang kulit setelah gelaran Dies Natalis UNS tahun lalu. Berkat bantuan penerjemah, Anwar menilai kisah yang disajikan memiliki kedalaman makna kehidupan yang luar biasa.

Melalui pagelaran seni tradisional ini, UNS tidak sekadar melakukan pelestarian internal. Momentum satu dekade emas ini sekaligus menjadi implementasi nyata dari visi universitas untuk menjadi pusat pengembangan ilmu dan seni berskala internasional yang berakar kuat pada nilai luhur budaya nasional.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS