Kubu Puruboyo dan Hangabehi Sepakat Kirab Malam 1 Suro Keraton Solo Bersamaan

Kusumawati - Selasa, 09 Juni 2026 17:52 WIB
Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbai, (tengah) (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Rencana pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tahun ini dipastikan bakal berlangsung mendebarkan. Dua kubu di internal keraton, yakni pihak Paku Buwono (PB) XIV Purbaya dan pihak Pelaksana Keraton Solo pimpinan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, sama-sama menjadwalkan ritual sakral tersebut pada waktu yang bersamaan, yaitu Selasa (16/6/2026) malam.

Mengingat kedua belah pihak akan menggunakan rute yang sama, waktu yang sama, hingga aset sakral yang sama—termasuk kawanan kebo bule Kyai Slamet—potensi terjadinya pertemuan fisik antarkelompok di lapangan menjadi sangat tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbai, menegaskan bahwa seluruh upacara adat di Keraton Solo wajib berjalan tegak lurus mengikuti Dhawuh Dalem atau perintah raja. Meski demikian, pihak keraton mengaku terbuka dan menyambut baik jika kubu Tedjowulan ingin melebur dalam satu kirab yang sama.

"Ketika mereka ingin melakukan acara Suro juga, kalau mereka ingin bersama-sama dengan kita sesuai Dhawuh Dalem PB XIV (Purbaya) monggo, kami sambut. Itu akan menjadi momen baik untuk kita bisa berjalan bersama-sama," ujar Timoer saat ditemui di Kori Talangpaten, Keraton Solo.

Timoer juga mengimbau seluruh kerabat, sentana, hingga masyarakat luas untuk menjaga kondusivitas demi menghormati kesakralan ritual. Menurutnya, karena titik keluar pusaka dan rute yang dilewati sama, kedewasaan semua pihak sangat diuji agar tidak terjadi gesekan yang justru mencoreng adat keraton.

Ia menegaskan penentuan tanggal Kirab 1 Suro Be 1960 ini sudah final berdasarkan perhitungan kalender adat yang matang serta hasil koordinasi dengan Pura Mangkunegaran dan Catur Sagotra. Kesalahpahaman yang sempat beredar dinilai sebagai dinamika yang lumrah terjadi setiap tahunnya.

Dikonfirmasi terpisah, kubu KGPH Panembahan Agung Tedjowulan juga telah mematangkan rencana kirab mereka setelah menggelar rapat koordinasi dengan Kementerian Kebudayaan. Juru bicara KGPH Tedjowulan, Kanjeng Pakunegoro, membenarkan bahwa rangkaian kirab mereka akan dimulai pada Selasa malam hingga Rabu dini hari.

Pakunegoro tidak menampik adanya kekhawatiran terkait dinamika di lapangan mengingat ini adalah pertama kalinya kedua kubu bergerak di tanggal dan lokasi yang sama, berbeda dengan momen Grebeg Besar lalu yang masih bisa digelar pada hari yang berbeda.

"Harapan Gusti Tedjowulan kan rukun, rukun, rukun, kompak. Tapi kalau Malam 1 Suro ini kan enggak bisa dua tanggal. Artinya akan bertemu di satu tempat dan satu malam. Jika masih ada kepentingan personal atau kelompok, dinamikanya tentu cukup mengkhawatirkan," ungkap Pakunegoro.

Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malem 1 Suro merupakan agenda rutin tahunan yang telah dilaksanakan oleh para Sinuhun terdahulu sebagai warisan budaya adiluhung Keraton Surakarta. Tradisi tersebut hingga saat ini tetap dilanjutkan, dijaga, dan dilestarikan.

Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malem 1 Suro bukan sekadar seremoni budaya, melainkan manifestasi dari warisan spiritual, filosofi, dan nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat menghormati dan mendukung pelaksanaan tradisi tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS