YAKABI Latih Disabilitas Sukoharjo Sulap Limbah Kertas Jadi Topeng

Selasa, 02 Juni 2026 18:36 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001732806.jpg
Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI) latih Disabilitas kreasi membuat topeng kertas (Soloaja)

SUKOHARJO (Soloaja.co) — Masalah limbah kertas yang sering mengotori lingkungan kini berhasil disulap menjadi sebuah mahakarya seni bernilai jual tinggi. Terobosan ramah lingkungan ini diwujudkan oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI) melalui gelaran "Workshop & Pelatihan Intensif Produksi Topeng Wayang Limbah Kertas" di Sanggar Inklusi Permata Hati, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (30/5/2026).

Tidak tanggung-tanggung, kegiatan edukatif ini menggandeng 100 pemuda disabilitas setempat untuk menjadi agen penggerak ekonomi hijau. Program inklusif ini juga mendapat dukungan pendanaan resmi dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui skema Forestry and Other Land Use Norway's Contribution 4.

Ketua YAKABI, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menjelaskan bahwa pelatihan kali ini sudah memasuki tahap krusial, yaitu produksi massal. Material sampah kertas yang sebelumnya telah dipilah, kini mulai diolah menjadi produk seni yang bernilai ekonomis.

"Fase produksi ini adalah jantung dari skema ekonomi sirkular yang kami bangun bersama BPDLH Kementerian Kehutanan RI. Hari ini, kertas-kertas bekas itu tidak sekadar dihancurkan, melainkan diberikan nilai tambah berupa sentuhan pelestarian budaya," kata Fadhel.

Melalui keterampilan para pemuda disabilitas, YAKABI ingin membuktikan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim global bisa berjalan selaras dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan di tingkat lokal.

Sentuhan Magis Maestro Topeng Sukoharjo

Untuk menghasilkan produk yang berkualitas, para peserta didampingi langsung oleh maestro seni rupa topeng legendaris asal Sukoharjo, Drs. Rus Hardjanto atau yang akrab disapa Mbah Jantit. Ia mengajarkan formula rahasia pembuatan bubur kertas (pulp) hingga teknik mencetak agar topeng yang dihasilkan memiliki karakter visual yang kuat, presisi, dan kokoh.

Mbah Jantit mengaku sangat kagum dengan semangat dan kepekaan rasa yang ditunjukkan oleh para remaja istimewa ini selama pelatihan.

"Mereka bekerja tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga insting dan hati. Hasil cetakan topeng karya teman-teman disabilitas ini di luar dugaan, sangat presisi dan detail. Saya sangat optimis, produk olahan limbah ini kelak mampu bersaing di pasar kesenian lokal hingga nasional," puji Mbah Jantit.

Inisiatif brilian ini pun disambut penuh sukacita oleh pihak pengelola fasilitas. Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati, Listri Sedyaningsih, mengapresiasi konsep pemberdayaan dari YAKABI yang dinilainya sangat holistik.

Menurut Listri, program ini sukses mengintegrasikan tiga isu penting sekaligus dalam satu wadah, yaitu:
* Pelestarian alam berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah kertas.
* Perawatan dan pelestarian seni budaya tradisional Jawa.
* Penumbuhan kemandirian ekonomi bagi kelompok disabilitas.

Jadi Terapi Motorik dan Sensorik

Di sisi lain, proses pembuatan topeng dari bubur kertas ini ternyata memberikan dampak kesehatan (therapeutic effect) yang sangat baik bagi tumbuh kembang para peserta.

Suyanti, salah seorang Pendamping Inklusi yang mengawasi jalannya pelatihan, memaparkan adanya stimulasi motorik dan psikologis yang sangat positif pada diri anak-anak didiknya.

"Aktivitas meremas kertas basah, mencampur adonan lem, hingga menekan *pulp* ke dalam rongga cetakan adalah bentuk terapi sensori dan motorik halus yang sangat ideal bagi anak-anak kami," jelas Suyanti.

Lebih dari sekadar terapi fisik, proses ini juga berhasil mendongkrak rasa percaya diri mereka secara drastis. Ada kebanggaan yang luar biasa saat para pemuda disabilitas ini melihat adonan sampah kertas di tangan mereka berubah wujud menjadi karakter wayang yang indah.

Setelah proses pencetakan selesai, seluruh purwarupa topeng ini akan memasuki fase pengeringan dan pewarnaan artistik. Guna memastikan produk ini bisa terserap pasar secara luas, YAKABI juga telah menyiapkan program lanjutan berupa pembekalan literasi digital agar para peserta siap memasarkan karya ekologis mereka ke bursa kesenian nasional lewat platform e-commerce.