UMS
Senin, 19 Januari 2026 13:19 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi unggul dengan mengukuhkan lima guru besar baru pada awal tahun 2026. Penambahan ini menggenapkan jumlah total guru besar UMS menjadi 70 profesor.
Sekretaris Universitas UMS, Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D., menyatakan bahwa pengukuhan ini merupakan momentum penting bagi UMS untuk terus berkontribusi pada kemajuan sains, teknologi, dan nilai-nilai kebangsaan.
"Lima guru besar yang dikukuhkan ini membawa kepakaran yang sangat relevan dengan tantangan global, mulai dari transformasi digital, mitigasi bencana, hingga inovasi kesehatan," ujarnya.
Berikut adalah paparan kepakaran dari kelima guru besar baru UMS:
1. Prof. Dr. Suranto: Technopreneurship untuk Kemandirian Bangsa
Kepakaran: Technopreneurship (FKIP)
Prof. Suranto menekankan bahwa di era Society 5.0, lulusan SMK dan Pendidikan Vokasi harus bertransformasi dari pengguna teknologi menjadi pencipta solusi berbasis AI dan inovasi digital.
* Urgensi: Menjawab ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri serta menekan angka pengangguran terdidik.
* Kebaruan: Mengintegrasikan experiential learning dan inkubator bisnis di kampus untuk membangun mental mandiri dan etos kerja yang beretika.
* Harapan: Lahirnya startup berkelanjutan yang mampu mempercepat hilirisasi riset demi penguatan ekonomi digital nasional.
Prof. Heru Supriyono, Ph.D.: Digitalisasi Instrumen dan Kendali
Kepakaran: Teknik Elektro (Fakultas Teknik)
Prof. Heru berfokus pada penggabungan instrumen elektronik, sensor, dan aktuator berbasis prosesor digital.
* Aplikasi IoT: Pemanfaatan Internet of Things (IoT) sangat krusial untuk otomatisasi proses yang repetitif, berbahaya, atau membutuhkan pemantauan jarak jauh.
* Misi Asta Cita: Mendukung misi nasional dalam memperkuat sains dan teknologi serta hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
* Tantangan: Integrasi instrumen kendali dengan Kecerdasan Buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor.
Prof. Ir. Eko Setiawan, Ph.D.: Membangun Masyarakat Tangguh Bencana
Kepakaran: Optimasi dan Logistik (Fakultas Teknik Industri)
Mengingat posisi Indonesia di Ring of Fire, Prof. Eko mengusung gagasan "Hidup Berdampingan dengan Risiko Bencana".
* Manajemen Risiko: Risiko bencana diukur dari perbandingan antara bahaya dan kerentanan terhadap kapasitas masyarakat.
* Langkah Strategis: Pengambilan keputusan berbasis Big Data, Machine Learning, dan AI dalam perencanaan pembangunan.
* Siklus Kebencanaan: Menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan (preparedness) sebelum bencana terjadi, serta pelibatan organisasi masyarakat (seperti Muhammadiyah) dalam memperkuat ketangguhan komunitas.
Prof. Dr. Andri Nirwana, Ph.D.: Tafsir Al-Qur'an sebagai Etika Kebangsaan
Kepakaran: Ilmu Tafsir (Fakultas Agama Islam)
Prof. Andri mereposisi Ilmu Tafsir sebagai panduan moral publik yang menghubungkan pesan wahyu dengan realitas sosial dan politik Indonesia.
* Relevansi Asta Cita: Menghubungkan prinsip keadilan ('adl), kemanusiaan (karāmah al-insān), dan musyawarah dalam Al-Qur'an dengan agenda strategis pembangunan nasional.
* Kebaruan: Menggunakan pendekatan Tafsir Maqasidi untuk isu-isu publik seperti korupsi, pluralisme, dan lingkungan.
* Tujuan: Menjadikan tafsir sebagai kompas moral bangsa agar tidak terjebak dalam politik identitas atau pragmatisme, serta memperkuat fondasi etik Pancasila.
Prof. Dr. Umi Budi Rahayu: Inovasi Pemulihan Pasca Stroke
Kepakaran: Fisioterapi Neuromuscular (Fakultas Ilmu Kesehatan)
Prof. Umi mengangkat isu stroke sebagai penyebab kecacatan utama di dunia dan menghadirkan solusi melalui Neurorestorasi.
* Konsep: Memulihkan saraf melalui mekanisme pembelajaran motorik yang mampu mengubah plastisitas otak secara permanen.
* Inovasi Alat: Mengembangkan Personal Balance Feedback (PBF), sebuah perangkat pintar (timbangan dan sabuk sensor) berbasis Raspberry Pi yang telah mendapatkan paten sederhana.
* Keunggulan PBF: Alat ini mampu mendeteksi gangguan keseimbangan sekaligus menjadi alat terapi yang akurat, mudah dibawa, dan memberikan feedback secara real-time kepada pasien.
Pengukuhan kelima Guru Besar ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika UMS untuk terus berinovasi. Dengan beragam pakar di bidang teknologi, sosial-keagamaan, hingga kesehatan, UMS siap berkontribusi nyata dalam mencetak lulusan unggul yang berdaya saing global.
Bagikan