Seniman
Minggu, 25 Oktober 2026 10:14 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta siap mengukuhkan posisinya sebagai pusat kebudayaan dan ekonomi kreatif nasional. Ajang bertajuk Pekan Se.daya.di.surakarta 2026 bakal digelar secara meriah di Taman Balekambang pada 1–7 November 2026 mendatang.
Event akbar ini hadir sebagai platform aktivasi berbasis seni, budaya, dan tradisi yang berkolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif. Berangkat dari nilai keselarasan dan keseimbangan yang dimaknai melalui simbol Loro Blonyo, ajang ini membuka ruang bagi ekspresi tradisi dan kontemporer untuk berkembang bersama.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menegaskan komitmen Pemkot Solo untuk memfasilitasi dan membentuk ekosistem berkelanjutan demi mewujudkan visi Solo Wellness City 2030.
"Kota Solo harus siap beradaptasi dengan tantangan dan memaksimalkan potensi wisata yang ada. Jika kita tidak bisa berevolusi, potensi wisata akan menurun. Melalui event ini, kami bangga dan siap mendukung penuh pembentukan ekosistemnya," ujar Respati saat jumpa pers di Museum Radya Pustaka, Minggu (25/10/2026).
Respati optimistis ajang ini mampu mentransformasikan kekayaan seni-budaya menjadi kekuatan ekonomi baru. Terlebih, pelaksanaannya bertepatan dengan momentum agenda Daup Ageng Pura Mangkunegaran yang diprediksi akan menarik lonjakan kunjungan wisatawan dan tamu VIP ke Kota Bengawan.
Sementara itu, Penggagas Se.daya.di.surakarta, Paulus Mintarga, menjelaskan filosofi di balik gerakan ini. Menurutnya, kebudayaan terus bergerak dinamis layaknya cakra manggilingan.
"Setiap inisiatif berawal dari gagasan, berproses untuk tumbuh, dan menemukan daya ketika dirawat bersama. Melalui se.daya.di, kami ingin mempertemukan berbagai gagasan, praktik, dan pengetahuan agar tumbuh membawa berkah bagi kehidupan bersama," tutur Paulus.
Direktur Festival Se.daya.di.surakarta, Tatuk Marbudi, menambahkan bahwa pekan sepekan ini mengusung semangat Collect, Connect, Collab. Ajang ini melibatkan lebih dari 100 kolaborator lintas bidang dan menargetkan 20.000 kunjungan audiens selama tujuh hari penyelenggaraan.
Direktur Program Se.daya.di.surakarta, Nanang Musha, memaparkan bahwa seni dan budaya diterjemahkan ke dalam praktik keseharian masyarakat melalui tujuh program utama:
se.daya.di.wellness: Mengajak publik merawat keseimbangan diri melalui praktik tubuh dan refleksi, seperti Jawawellness dari Atsiri Jawa yang memadukan keselarasan wiraga, wirama, dan wirasa.
se.daya.di.pasar: Menghadirkan Pasar-pasaran yang diisi lebih dari 50 tenant kuliner, UMKM, artisan, creative makers, dan merek lokal.
se.daya.di.pagelaran: Mempertemukan 16 penampil dari ranah musik, tari, teater, wayang, dan seni pertunjukan.
se.daya.di.lokakarya: Menyajikan 15 sesi edukatif untuk eksplorasi praktik dan pertukaran pengetahuan.
se.daya.di.pameran: Menampilkan karya dari 17 seniman dan kolektif yang mengusung seni, tradisi, teknologi, serta pengetahuan lokal.
se.daya.di.boga: Mengangkat eksplorasi kekayaan kuliner dan praktik pangan lokal.
se.daya.di.forum: Ruang diskusi interaktif membahas isu-isu seni, budaya, dan pengembangan kota.
Dukungan Sektor Perbankan dan Akademisi
Langkah memperkuat Solo sebagai destinasi wellness tourism turut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Perwakilan Bank BTN Solo, Anita, menyatakan komitmen perbankan dalam mendukung ekosistem ini secara menyeluruh, tidak hanya pada sektor hunian tetapi juga ekosistem digital seperti aplikasi SOLMED (Solo Wellness Medical).
Dari sisi akademik dan pengembangan SDM, Pemkot Solo juga telah menjalin kerja sama dengan Sekolah Vokasi UNS yang memiliki program keahlian wellness. Kolaborasi ini diharapkan dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi pariwisata kesehatan di Kota Solo secara berkelanjutan.
Bagikan