Sukoharjo
Sabtu, 06 Juni 2026 12:24 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Federasi olahraga disabilitas Asia Tenggara (APSF) kembali memilih Kota Solo sebagai lokasi penyelenggaraan Rapat Umum dan Pemilihan Anggota Komite Eksekutif periode 2026-2030.
Agenda krusial yang berlangsung selama empat hari ini dihadiri oleh perwakilan dari sebelas negara anggota yang akan menentukan sosok nakhoda baru penggerak olahraga disabilitas di kawasan ASEAN.
Rangkaian kegiatan penting empat tahunan ini resmi dimulai dengan acara Welcoming Dinner di Grand Ballroom Hotel Alila Solo, Jumat (5/6/2026) malam. Mengusung tema hangat "No One Left Behind", jamuan malam tersebut menyuguhkan aneka kuliner khas Nusantara yang merekatkan kebersamaan para delegasi sebelum memasuki ruang sidang pleno.
Ketua Organizing Committee, Reda Manthovani, mengungkapkan rasa bangganya atas kepercayaan yang kembali diberikan oleh APSF kepada Indonesia setelah sukses menjadi tuan rumah pada tahun 2022 lalu. Menurutnya, momentum ini menjadi penegasan komitmen kuat Indonesia dalam memajukan ekosistem olahraga disabilitas secara berkelanjutan.
"Malam ini bukan sekadar makan malam penyambutan. Ini adalah momen persahabatan, rasa syukur, dan kebersamaan. Kami berharap malam ini memungkinkan Anda untuk merasakan kehangatan keramahan kami dan semangat kekeluargaan yang menghubungkan kita semua dalam gerakan olahraga disabilitas Asia Tenggara," ujar Reda saat menyambut para tamu.
Reda menambahkan bahwa iklim olahraga disabilitas di tanah air terus menunjukkan grafik positif. Indonesia kini bahkan telah memiliki kompleks latihan khusus yakni Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia (PPPI) di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Fasilitas mutakhir ini diharapkan mampu membuat para atlet lebih fokus dalam mengasah kemampuan demi meraih prestasi di level dunia.
Terkait tema yang diusung, Reda menegaskan pesan "No One Left Behind" harus menjadi motivasi bersama bagi seluruh negara anggota APSF. Prinsip tersebut mengandung arti bahwa setiap atlet berhak mendapatkan kesempatan, setiap negara berhak untuk berkembang, setiap suara layak didengar, dan setiap orang layak untuk diterima.
Apresiasi tinggi juga datang dari Sekretaris Jenderal APSF, Wandee Tosuwan. Dirinya mengaku selalu dibuat kagum setiap kali federasi menggelar agenda di Kota Bengawan. Ia memuji profesionalisme National Paralympic Committee (NPC) Indonesia yang sukses mengemas acara penyambutan dengan sangat istimewa dan inovatif.
"Kami mengira ini hanya akan menjadi makan malam biasa, tetapi hari ini benar-benar luar biasa. Kami berkumpul di bawah lingkaran cahaya, yang melambangkan kegembiraan sebelas negara yang bersatu hari ini. Meskipun ada pemilihan, malam ini kami fokus untuk bersatu, tersenyum, dan menikmati suasana yang indah," tutur Wandee kagum.
Wandee berharap agenda pemilihan ini dapat berjalan sukses dan membawa dampak besar bagi masa depan organisasi. Ia meyakini, siapa pun yang terpilih nanti, APSF akan terus berkembang pesat dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui kolaborasi solid antarnegara ASEAN.
Setelah kehangatan jamuan malam usai, fokus para pemilik suara (voters) langsung tertuju pada agenda utama yang digelar Sabtu (6/6/2026). Dua figur kuat dipastikan bersaing memperebutkan kursi nomor satu APSF untuk menggantikan Osoth Bhavilai yang telah memimpin sejak 2015.
Dua calon presiden yang bertarung merebut simpati sebelas negara tersebut adalah Senny Marbun dari Indonesia dan Maitree Kongruang dari Thailand.
Bagikan