Jumenengan
Jumat, 04 September 2026 22:54 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Suasana khidmat menyelimuti Pendhapa Sasana Sewaka, Karaton Surakarta Hadiningrat, Jumat (4/9/2026) malam. Menjelang puncak peringatan Tingalan Dalem Jumenengan SISKS Paku Buwana XIV, sebanyak sembilan penari perempuan menggelar latihan pamungkas tarian sakral Bedhaya Ketawang pada pukul 20.00–22.00 WIB.
Latihan pamungkas ini bukan sekadar gladi bersih teknis, melainkan bagian dari ritual untuk menjaga kekhidmatan, keutuhan tata tradisi, dan ketepatan pakem warisan leluhur.
Diiringi alunan gamelan dan tata ruang khusus yang dilengkapi sesaji, setiap gerakan, perpindahan, serta keselarasan rasa dari para penari dimantapkan sebelum dipersembahkan dalam majelis jumenengan.
Dalam tradisi keraton, jumlah sembilan penari memegang peranan krusial. Angka sembilan merefleksikan simbol kesempurnaan kosmologi Jawa. Tarian pusaka ini juga sarat dengan narasi spiritual Mataram Islam, yang mengaitkan hubungan spiritual serta curahan kasih penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul, kepada Panembahan Senopati hingga dilanjutkan oleh raja-raja penerusnya.
Pelaksanaan ritual ini sekaligus menegaskan keberlanjutan tradisi di bawah kepemimpinan SISKS Paku Buwana XIV. Raja yang terlahir dengan nama BRM Suryo Suharto pada 5 Februari 1985 ini sebelumnya menyandang gelar GPH Mangkubumi dan KGPH Hangabehi (2022).
Pasca-wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada 2 November 2025, beliau melanjutkan takhta dan mendeklarasikan diri sebagai SISKS Paku Buwana XIV pada 13 November 2025.
Prosesi latihan ini membuktikan bahwa pelestarian warisan budaya Karaton Surakarta Hadiningrat terus dihidupkan secara dinamis lintas generasi—tidak hanya saat tarian disajikan, tetapi juga melalui kedisiplinan dan penghormatan terhadap seluruh tata cara di baliknya.
Bagikan