PB XIV Teguhkan Ikrar di Kagungan Dalem Masjid Paromosono Karaton Surakarta

Kusumawati - Sabtu, 05 September 2026 08:21 WIB
PB XIV di Masjid Paromosono Karaton Surakarta (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Menjelang puncak upacara adat yang melengkapi Dalem Jumenengan, SISKS Paku Buwana XIV menjalani ibadah sholat malam dan meneguhkan ikrar di Kagungan Dalem Masjid Paromosono, Karaton Surakarta Hadiningrat, Jumat (4/9/2026) malam.

Prosesi khidmat ini menjadi pijakan spiritual yang menegaskan bahwa takhta dalam tradisi keraton merupakan amanah moral dan kultural untuk menjaga keberlanjutan warisan leluhur.

Di dalam bangunan masjid bersejarah kawasan Baluwarti tersebut, SISKS Paku Buwana XIV membacakan sejumlah ayat suci Al-Qur'an, di antaranya Surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Al-'Alaq.

Pembacaan ayat-ayat ini menempatkan prosesi menuju takhta dalam dimensi keagamaan yang mendalam, sekaligus menjadi simbol komitmen moral kepemimpinan beliau sebelum memangku tanggung jawab adat secara penuh.

Pengageng Sasana Wilapa yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), menegaskan bahwa konsep kepemimpinan raja dalam konteks masa kini tidak lagi berorientasi pada kekuasaan politik semata, melainkan pada tanggung jawab melestarikan kebudayaan Jawa.

"Dahulu, seorang raja menjalankan amanah Gusti Allah untuk memimpin sebuah bangsa, khususnya bangsa Jawa. Namun dalam konteks sekarang, amanah tersebut diwujudkan melalui tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikan kebudayaan yang telah diwariskan oleh para leluhur. Nilai kepemimpinan itu tidak semata-mata tentang kekuasaan, tetapi tentang amanah untuk menjaga warisan budaya dan meneruskannya kepada generasi berikutnya," ujar Gusti Moeng.

Pemilihan Masjid Paromosono sebagai tempat pelaksanaan ibadah dan ikrar memiliki nilai historis yang kuat. Masjid ini berkaitan erat dengan masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono II saat perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Sala pada 1745.

Dalam rekam sejarahnya, masjid tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan abdi dalem Suronoto—golongan abdi dalem yang bertugas mengurus urusan keagamaan keraton—hingga kawasan permukiman di sekitarnya dikenal sebagai Kampung Suronatan.

Rangkaian malam spiritual tersebut ditutup dengan momen berkesan saat SISKS Paku Buwana XIV melangkah keluar dari Masjid Paromosono menuju Kedhaton. Suasana hening kompleks keraton berubah syahdu ketika gema takbir membahana mengiringi setiap langkah beliau.

Momen ini menegaskan bahwa seluruh rangkaian Jumenengan bukan sekadar peralihan gelar dan kedudukan, melainkan ikrar lahir dan batin untuk memastikan kebudayaan Karaton Surakarta tetap hidup dan terus diwariskan melintasi zaman.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS