Sabotase Karier: Wajah Sunyi Perundungan di Lingkungan Kerja

Selasa, 13 Januari 2026 13:12 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001246015.jpg
Nina Kuswardanah, mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Perundungan di tempat kerja sering kali dibayangkan sebagai bentakan atau intimidasi fisik. Namun, kenyataannya ada ancaman yang jauh lebih rapi dan terstruktur: sabotase karier. Fenomena ini menjadi sorotan Nina Kuswardanah, mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang mengungkap betapa destruktifnya praktik ini bagi kesehatan mental dan masa depan profesional seseorang.

Menurut Nina, sabotase karier adalah bentuk penyingkiran halus di mana ruang gerak seorang karyawan dipersempit hingga ia tampak bermasalah secara administratif.

Hal ini biasanya tumbuh subur dalam budaya organisasi yang mementingkan loyalitas kelompok di atas integritas. Penilaian kinerja yang seharusnya objektif, berubah menjadi senjata untuk menyingkirkan mereka yang dianggap tidak "sejalan".

"Dalam beberapa kasus, sabotase ini bahkan berujung pada kriminalisasi. Seorang direktur, misalnya, bisa tiba-tiba diseret ke ranah hukum atas kesalahan yang sebenarnya bersifat struktural, bukan personal. Di luar tampak prosedural, namun di dalam, tekanan psikologisnya sangat luar biasa," ungkap Nina, Selasa (13/1).

Transformasi hidup yang drastis—dari ruang rapat menuju ruang tahanan—menciptakan guncangan identitas yang hebat. Rasa aman yang runtuh dan hilangnya reputasi sering kali membuat korban tidak siap menghadapi situasi yang tidak masuk akal tersebut.

Dalam tinjauan psikologi, Nina menjelaskan bahwa para korban umumnya melakukan dua strategi bertahan:
* Problem Focused Coping: Melawan dengan mengumpulkan dokumen, mencari keadilan hukum, dan berbicara ke publik.
* Emotional Focused Coping: Bertahan secara sunyi melalui dukungan keluarga dan kedekatan spiritual demi menjaga kewarasan.

Meski pada akhirnya rehabilitasi hukum didapatkan, Nina menekankan bahwa luka sosial dan psikologis akibat tuduhan palsu tidak mudah hilang. Pengalaman dibiarkan sendirian saat disingkirkan meninggalkan bekas trauma yang panjang.

"Sabotase karier adalah cermin dari kegagalan sistem organisasi dalam melindungi keadilan. Selama lingkungan kerja memilih diam demi zona aman, praktik yang merusak ini akan terus berulang secara rapi dan sunyi," tutupnya.