UNS
Kamis, 18 Juni 2026 14:20 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Riset Grup Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (RG ESDAL) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak warga Desa Genengan, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar untuk meningkatkan pemanfaatan sampah organik rumah tangga melalui pembuatan eco enzym.
Langkah ini diambil mengingat setiap rumah tangga menghasilkan sampah harian dengan porsi mencapai 60 persen berupa sampah organik. Sayangnya, sebagian besar sampah tersebut langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa diolah terlebih dahulu.
Ketua kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. Ir. Joko Sutrisno, MP., menjelaskan bahwa penumpukan limbah ini membawa dampak buruk bagi lingkungan jika dibiarkan begitu saja.
"Kandungan nutrisi yang belum terurai pada sampah organik akan menyebabkan bau yang menyengat dan wujud yang menjijikan. Salah satu solusi yang menarik dilakukan adalah dengan mengolah sampah organik menjadi eco enzym. Eco enzym adalah cairan alami hasil fermentasi limbah organik yang ditambah dengan air dan gula," ujar Prof. Joko.
Praktik Formula 1:3:10
Dalam kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 17 Juli 2026 tersebut, RG ESDAL UNS menghadirkan Ibu Winda Hayuningtyas, S.P., seorang fasilitator pemberdayaan masyarakat yang berpengalaman dalam pengolahan sampah.
Di hadapan Kepala Desa dan 60 anggota PKK Desa Genengan, Winda membagikan rumus dasar pembuatan eco enzym, yaitu 1 bagian molase atau gula merah, 3 bagian bahan organik atau kulit buah, dan 10 bagian air (1:3:10).
Untuk mempraktikkannya, seluruh anggota PKK dibagi menjadi 6 kelompok. Di bawah pendampingan langsung, setiap kelompok meracik formula dengan komposisi berupa 250 gram molase, 750 gram bahan organik sisa kulit buah, dan 2.500 gram air. Semua bahan ditimbang secara akurat sebelum dimasukkan ke dalam wadah plastik. Ramuan ini kemudian harus didiamkan selama 3 bulan untuk melalui proses fermentasi yang sempurna.
Ciri Keberhasilan dan Manfaat
Winda mengingatkan warga untuk memantau kualitas fermentasi mereka. Eco enzym yang berhasil dapat diidentifikasi melalui tiga ciri utama. Pertama, aromanya asam segar khas fermentasi dan tidak berbau busuk. Kedua, warnanya cokelat muda hingga tua tergantung bahan yang digunakan. Ketiga, adanya lapisan putih atau jamur tipis di permukaan, serta tidak ada belatung atau jamur hitam.
Setelah memasuki masa panen 3 bulan ke depan, cairan multifungsi ini siap digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga. Selain menjadi alternatif cairan pembersih kimia, eco enzym juga efektif sebagai pengurai limbah, penghilang bau alami, hingga pupuk untuk menyuburkan tanaman.
Warga Desa Genengan pun menyambut edukasi ini dengan antusias dan kini tengah bersiap menanti hasil panen perdana cairan kaya manfaat mereka.
Bagikan