apple
Selasa, 06 Oktober 2026 14:26 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA – Persaingan di pasar smartphone Indonesia semakin sengit. Sejumlah merek asal China masih menjadi pemain utama, dengan Oppo dan Xiaomi menempati posisi teratas berdasarkan jumlah pengiriman smartphone pada kuartal I 2026.
Data Counterpoint Research, lembaga riset pasar global yang menyediakan data dan analisis industri teknologi, menunjukkan pasar smartphone Indonesia mengalami penurunan sebesar 9% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2026. Pelemahan tersebut terjadi ketika harga sejumlah komponen perangkat, khususnya memori, mengalami kenaikan sehingga turut mendorong peningkatan biaya produksi smartphone.
Meski pasar secara keseluruhan menyusut, persaingan di posisi teratas tetap berlangsung ketat. Berikut peta lima besar pasar smartphone Indonesia pada kuartal I 2026:
Baca juga : Hashim Lepas Jabatan Komisaris Utama WIFI
Jika melihat kinerja sepanjang 2025, peta persaingan menunjukkan posisi yang berbeda. Data Omdia mencatat Xiaomi sebagai pemimpin pasar smartphone Indonesia dengan pangsa sebesar 19%.
Komposisi lima besar pasar smartphone Indonesia sepanjang 2025 adalah:
Transsion merupakan perusahaan induk yang menaungi sejumlah merek seperti Infinix, Tecno, dan itel. Selisih pangsa pasar lima merek terbesar tersebut hanya sekitar 4 poin persentase. a.
Perubahan tersebut terlihat pada kuartal II 2025. Transsion sempat menjadi pemimpin pasar dengan pangsa 21,5%, tumbuh 9,5% yoy.
Pada periode yang sama:
Data diatas menjadi bukti jika posisi puncak pasar smartphone Indonesia masih sangat dinamis. Perubahan strategi harga, distribusi, portofolio produk hingga peluncuran model baru dapat mengubah posisi masing-masing pemain.
Dominasi merek China menjadi salah satu karakter utama pasar smartphone Indonesia. Empat dari lima merek teratas merupakan perusahaan asal China.
Kekuatan tersebut terlihat dari kemampuan produsen menggarap berbagai segmen harga melalui portofolio produk yang luas. Oppo, Xiaomi, Vivo, serta Infinix bersaing mulai dari perangkat entry-level hingga smartphone premium.
Strategi multi-merek juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat persaingan. Transsion mengoperasikan Infinix, Tecno, dan itel untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda.
Baca juga : HUT ke-28, Bank Mandiri Bagikan 'Kado' Dividen Interim Rp6,16 T
Sementara itu, kelompok BBK Electronics memiliki sejumlah merek seperti Oppo, Vivo, Realme, dan iQOO yang memiliki fokus produk serta segmen pasar masing-masing.
Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus menghadapi persaingan di berbagai rentang harga.
Menariknya, penurunan pasar smartphone secara keseluruhan tidak terjadi di semua segmen. Counterpoint mencatat segmen premium dengan harga di atas US$600 justru tumbuh 30% yoy pada kuartal I 2026.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan permintaan terhadap perangkat premium masih cukup kuat. Smartphone di kelas ini semakin digunakan bukan hanya untuk komunikasi, tetapi juga fotografi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hiburan, dan produktivitas.
Oppo dan Samsung menjadi dua pemain yang memiliki posisi penting di segmen tersebut melalui produk premium masing-masing.
Di sisi lain, segmen entry-level menghadapi tekanan lebih besar akibat kenaikan harga komponen memori. Konsumen dengan anggaran terbatas menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan harga sehingga sebagian memilih menunda pembelian atau beralih ke perangkat bekas.
Baca juga : IHSG Terseok-seok Dihajar Sentimen Global dan Domestik
Dengan kondisi tersebut, persaingan smartphone Indonesia pada 2026 tidak hanya ditentukan oleh volume penjualan. Harga, inovasi teknologi, kekuatan merek, ketersediaan produk, serta kemampuan produsen mengelola biaya komponen menjadi faktor yang semakin menentukan posisi masing-masing pemain.
Peta persaingan pun masih sangat terbuka. Posisi Oppo dan Xiaomi pada kuartal I 2026 belum menghilangkan peluang Samsung, Transsion, Vivo maupun pemain lainnya untuk mengubah komposisi pasar pada kuartal berikutnya.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 05 Oct 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 06 Okt 2026
Bagikan