Perjalanan Prof. Deny Tri Ardianto Bawa Film Tari Indonesia ke Panggung Dunia
SOLO (Soloaja.co) - Sebuah koreografi tari hanya berlangsung beberapa detik. Namun, ketika gerak koreografi itu bertemu kamera, cahaya, ruang, musik, dan penyuntingan, ia dapat berubah menjadi bahasa visual yang melampaui batas panggung.
Di situlah perjalanan panjang Prof. Dr. Deny Tri Ardianto, S.Sn., Dipl.Art. menemukan bentuknya.
Berangkat dari pengalaman sebagai penari, kemudian menekuni desain komunikasi visual, film, penelitian seni, dan pendidikan, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS ini membangun konsistensi pada satu wilayah yang belum banyak digarap di Indonesia: film tari.
"Film tari bukan sekadar merekam penari yang sedang bergerak. Tari dan sinema harus bertemu untuk menciptakan bentuk artistik baru.
Gagasan tersebut telah ia kembangkan sejak bertahun-tahun lalu." Ungkap Prof. Dr. Deny Tri Ardianto, S.Sn., Dipl.Art. usai pengukuhan guru besar UNS, Selasa (06/10).
Di dalam tulisannya di jurnal Wacana Seni (2019) yang berjudul New Narratives, Emerging Genres: Dance Film Development in Indonesia, Deny melihat film tari sebagai bentuk hibridasi antara seni tari dan film. Ia juga mencatat bahwa genre tersebut masih relatif kurang berkembang di Indonesia dibandingkan Eropa dan Amerika.
Kini, perjalanan tersebut mencapai salah satu tonggak penting dengan pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Penciptaan Seni Film di Universitas Sebelas Maret (UNS).
Dari Tubuh Penari ke Balik Kamera
Kecintaan Deny terhadap tari bukan sesuatu yang muncul setelah ia menjadi akademisi. Ia telah mengenal tari sejak masa kanak-kanak dan pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam cara pandangnya terhadap tubuh, gerak, ruang, dan ekspresi.
Ketika kemudian memasuki dunia desain komunikasi visual dan film, pengalaman sebagai penari tersebut justru menemukan bentuk baru. Deny mulai melihat bahwa kamera dapat melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh panggung.
Kamera dapat berpindah sudut pandang, memotong waktu, mempertemukan ruang yang berbeda, atau menciptakan ritme melalui editing. Karena itu, koreografi dalam film tari tidak hanya diciptakan untuk tubuh penari, tetapi juga harus mempertimbangkan bagaimana tubuh tersebut akan dilihat atau ditangkap kamera.
Gagasan ini kemudian menjadi bagian dari pemikiran akademiknya. Dalam artikelnya di jurnal Mudra tahun 2020, Deny menjelaskan film tari sebagai ruang pertemuan seni tari dengan teknologi audiovisual dan media baru di Indonesia merupakan media yang memiliki potensi yang luarbiasa untuk dikembangkan di Indonesia, mengingat banyaknya kekayaan tari tradisi sebagai sumber penciptaan kreatif dan inovasi.
Tradisi Jawa sebagai Sumber Penciptaan
Dari perjalanan penciptaan film-film tari Deny, tradisi Jawa adalah pilihan sumber penciptaannya. Ia tidak meninggalkan tradisi ketika memasuki dunia film. Sebaliknya, tradisi justru menjadi sumber gagasan untuk menciptakan karya-karya audiovisual kontemporer.
Salah satu karya pentingnya adalah Risang Tetuka (2013). Karya tersebut merupakan adaptasi lakon Gathutkaca Lahir dari Wayang Orang Sriwedari ke dalam film tari. Dalam proses penciptaannya, Deny melakukan resepsi, reinterpretasi, rekreasi, dan transformasi teks tradisional ke dalam bahasa film. Tari digunakan sebagai bahasa tutur yang dipadukan dengan gambar dan suara.
Dengan pendekatan adaptasi tersebut, tradisi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang kaku. Cerita lama diberi kemungkinan untuk berbicara kepada generasi baru melalui bahasa visual yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
Pemikiran yang sama kemudian muncul dalam berbagai karya berikutnya, yaitu film tari Kalap! (2017). Dalam pemberitaan Solopos di tahun 2017 bertajuk “Eksplorasi Seni dan Budaya”, karya Kalap! tersebut disebut sebagai film tari eksperimental berbasis biografi, yaitu mengangkat kisah Arya Penangsang yang menggunakan koreografi tari, musik dan permainan sinematografi dalam setting budaya Jawa sebagai bahasa tutur dalam menyampaikan narasinya.
Film itu kemudian diputar dalam World Cinema Amsterdam, Belanda di tahun 2019, serta tampil dalam pembukaan pameran internasional di Gallery of Poh Chang Academy of Art, Bangkok, Thailand tahun 2019, Indonesia Bertutur di tahun 2024, dan sejak bulan Agustus-Oktober 2026 hadir di Tahir museum Solo.
Eksplorasi itu berlanjut melalui Being a Prosecutor atau Dadi Jeksa. Film ini mengambil sumber dari Serat Jayengbaya karya R.Ng. Ranggawarsita, khususnya pupuh Dadi Jeksa. Naskah Jawa tersebut kemudian ditransformasikan menjadi film tari dengan tubuh Otniel Tasman sebagai pusat ekspresi dan koreografi.
Pemberitaan Kompas tahun 2020 dalam artikel “Film Tari Pupuh Ranggawarsita” memperlihatkan bagaimana karya tersebut berangkat dari persoalan profesi jaksa, kemudian dikembangkan menjadi narasi tentang ambiguitas profesi, hukum, keadilan, kekuasaan, dan persoalan sosial. Koreografi tidak dibuat sekadar untuk dipertunjukkan di panggung, tetapi dirancang dengan memperhitungkan kebutuhan kamera dan detail visual.
Inilah salah satu gagasan penting dalam film tari Deny: kamera bukan hanya alat untuk merekam koreografi; kamera menjadi bagian dari koreografi itu sendiri. Karena itu, hubungan antara sutradara, koreografer, penari, ruang, dan kamera menjadi sangat penting.
Being a Prosecutor kemudian menempuh perjalanan festival internasional. UNS mencatat karya tersebut masuk official selection American Dance Festival’s Movies by Movers 2020 di Durham, Amerika Serikat dan beberapa festival film tari di dunia.
Pandemi Tidak Menghentikan Gerak
Ketika pandemi Covid-19 membatasi mobilitas seniman, produksi film tari Deny justru menemukan bentuk baru. Karya Morning Coffee dibuat dengan kru terbatas dan proses produksi yang sangat singkat. Pada Juni 2020, film tersebut meraih Winner of Audience Favorite dalam Versatility Dance Fest Virtual – The Quarantine Room di Amerika Serikat.
Dengan teknologi digital, film tari memiliki karakter yang berbeda dari pertunjukan panggung. Ia dapat diproduksi, didistribusikan, dan dinikmati melalui jaringan digital. Bagi Deny, teknologi bukan pengganti seni pertunjukan. Teknologi menjadi medium baru untuk memperluas kemungkinan penciptaan dan mempertemukan karya dengan penonton yang lebih luas.
Desire: Tubuh, Identitas, dan Spiritualitas
Perjalanan tersebut kemudian berkembang ke wilayah yang lebih personal dan kontemporer melalui Desire. Deny kembali menghadirkan Otniel Tasman dan tradisi Lengger Banyumas, sebuah tradisi tari yang dalam konteks karya tersebut digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antara tubuh, identitas, dan spiritualitas.
Melalui Lengger, Otniel Tasman mengeksplorasi ruang “abu-abu” antara konstruksi maskulinitas dan feminitas yang ia sebut nyawiji, atau penyatuan dua entitas. Dengan demikian, tradisi dalam Desire tidak hadir sekadar sebagai ornamen visual. Tradisi menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan manusia kontemporer.
Dari New York ke San Diego
Pada 2026, perjalanan Desire memasuki panggung internasional yang lebih luas. Film tersebut tercatat dalam jajaran film The 54th Dance on Camera Festival di New York. Dance on Camera Festival, merupakan festival film tari tertua di dunia dan menjadi rujukan festival-festival film tari di dunia.
Selepas itu di bulan Agustus 2026 Desire juga hadir dalam On Music – Dance & Music Film Festival 2026 di Warsawa, Polandia. On Music sendiri tercatat sebagai open-air film festival terbesar di eropa tengah.
Pada 30 Agustus 2026, Desire ditampilkan dalam Asian American Dance Festival (AADF) 2026 - Dance Film Screening di Museum of Contemporary Art San Diego (MCASD), La Jolla, Amerika Serikat.
Dan di festival inilah sebuah pencapaian baru terjadi Desire meraih Audience Choice Award. Penghargaan tersebut memiliki arti tersendiri karena diberikan berdasarkan pilihan penonton. Dengan kata lain, karya yang berangkat dari tradisi dan persoalan identitas Indonesia itu memperoleh respons apresiatif dalam sebuah ruang pemutaran internasional di Amerika Serikat.
Film Tari sebagai Pengetahuan
Perjalanan Deny memperlihatkan bahwa penciptaan seni tidak harus dipisahkan dari penelitian. Karya-karya filmnya berjalan berdampingan dengan publikasi ilmiah. Pada 2018 ia menulis mengenai perkembangan film tari di Indonesia. Pada 2020 ia membahas film tari sebagai hibridasi tari, sinema, dan media baru.
Pada 2022, Dadi Jeksa menjadi objek kajian penciptaan dan adaptasi Serat Jayengbaya. Kajian yang lebih baru juga membahas bagaimana adaptasi karya seni dan tradisi ke dalam film tari dapat menjadi salah satu cara mempertahankan nilai dan estetika tradisi melalui medium yang relevan bagi masyarakat masa kini. Di sinilah posisi Deny sebagai akademisi dan seniman bertemu.
Film bukan sekadar produk akhir. Proses penciptaannya menjadi sumber pengetahuan. Tradisi bukan sekadar bahan cerita. Ia menjadi sumber nilai dan gagasan. Kamera bukan sekadar alat produksi. Ia menjadi instrumen penciptaan.
Dari Penari, Sineas, hingga Guru Besar
Jika perjalanan itu ditarik ke belakang, terdapat sebuah garis yang relatif jelas. Pengakuan sebagai Guru Besar bidang Penciptaan Seni Film mengukuhkan sebuah perjalanan penciptaan yang panjang: bukan hanya sebagai capaian akademik, tetapi sebagai titik temu antara praktik berkarya, penelitian, pendidikan, dan perjalanan film tari Indonesia ke ruang internasional.
Membawa Indonesia melalui Bahasa Visual
Apa yang dilakukan Deny pada akhirnya bukan sekadar membuat film tentang tarian. Ia sedang mencari cara agar kebudayaan Indonesia dapat berbicara melalui bahasa yang dapat dipahami oleh zaman dan tradisi Jawa dapat bertemu penonton dunia tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Di tangan seorang pencipta, tradisi tidak selalu harus dipertahankan dengan cara yang sama. Ia dapat ditafsirkan kembali, ditransformasikan, dan menemukan medium baru.
Perjalanan Prof. Dr. Deny Tri Ardianto menunjukkan satu kemungkinan dari proses tersebut: dari gerak menuju gambar, dari panggung menuju layar, dari lokal menuju ruang global. Dan mungkin di sanalah makna paling penting dari film tari yang selama ini ia tekuni, bahwa ketika tubuh bergerak dan kamera menangkapnya, yang sesungguhnya sedang bergerak bukan hanya tubuh seorang penari, tetapi juga cerita, ingatan, identitas, dan kebudayaan Indonesia.
