Peringati HAN 2026, SD Muh 1 Solo Gelar Senam & Bermain

Jumat, 24 Juli 2026 06:38 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001927935.jpg
SD Muh 1 Solo memperingati Hari Anak Nasional dengan aksi dolanan tradisional (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta menggelar serangkaian kegiatan bertajuk "Pagi Ceria" pada Kamis (23/7/2026). Ratusan siswa antusias mengikuti acara yang memadukan aktivitas fisik, pelestarian permainan budaya, hingga ruang kebebasan berpendapat.

Kegiatan yang merujuk pada Surat Edaran Nomor 93 Tahun 2026 ini dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan sesi mengaji bersama. Keseruan kemudian berlanjut dengan "Senam Anak Hebat" yang diikuti seluruh siswa di halaman sekolah.

Usai olah fisik, suasana perayaan semakin meriah saat sekolah menghidupkan kembali memori permainan tempo dulu. Para siswa membawa alat permainan dari rumah dan memainkan ragam permainan tradisional di dalam maupun di sekitar kelas, di antaranya: Bola bekel, Lompat tali, Gobak sodor, Engklek, Dakon. 

Seluruh rangkaian aktivitas ini didokumentasikan sebagai bentuk implementasi pembelajaran menyenangkan sekaligus upaya sekolah melestarikan budaya lokal.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah, Sri Martono Lanjarsari—mewakili Kepala Sekolah Sri Sayekti—menjelaskan bahwa peringatan HAN ini ditutup dengan kegiatan interaktif bernama Forum Kotak Suara Anak.

Melalui forum tersebut, setiap siswa difasilitasi untuk menuliskan aspirasi, harapan, hingga keluh kesah terkait isu di lingkungan sekolah pada lembaran *post-it*. Catatan-catatan tersebut kemudian ditempel di majalah dinding (mading) kelas.

"Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk bergerak, bermain, belajar, dan didengar suaranya. Seluruh aspirasi yang ditempel di mading merupakan bentuk partisipasi aktif anak dalam mewujudkan sekolah yang ramah anak," ungkap Sri Martono.

Senada dengan hal tersebut, Wali Kelas Imam Priyanto menegaskan bahwa format peringatan HAN ini sejalan dengan komitmen sekolah mewujudkan pendidikan yang berpusat pada murid.

Pembelajaran, menurutnya, tidak melulu harus berada di balik meja kelas, melainkan juga lewat aktivitas yang merangsang karakter, jiwa sosial, dan keberanian anak mengutarakan ide secara santun.

"Peringatan ini dikemas menjadi pengalaman belajar yang menggembirakan. Ini menjadi bagian dari ikhtiar sekolah yang telah berusia 91 tahun dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak, berkeunggulan, serta berkemajuan," pungkas Imam.