PDM Merawat Persatuan di Tengah Keberagaman Boyolali

Sabtu, 26 September 2026 08:44 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1002169653.jpg
Ketua PDM Boyolali, Drs. H. Ali Muhson, M.Ag., M.Pd.I., MH., MM., (PDM Boyolali)

BOYOLALI (Soloaja.co) — Menjaga persatuan dan kesatuan di tengah dinamika masyarakat yang beragam tidak selalu berawal dari agenda besar. Sikap saling menghargai, kepedulian antarwarga, komunikasi yang terbuka, serta tradisi musyawarah menjadi fondasi utama dalam menciptakan harmoni sosial di Kabupaten Boyolali.

Keberagaman latar belakang, profesi, hingga pandangan hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Boyolali. Agar perbedaan tersebut tidak memicu perpecahan, dibutuhkan keterbukaan dan rasa saling toleransi. Spirit gotong royong dan kepedulian sosial membuktikan bahwa perbedaan dapat disampingkan demi kepentingan bersama.

Di era digital, tantangan menjaga kerukunan kian kompleks akibat derasnya arus informasi di media sosial. Masyarakat dituntut lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menyaring informasi guna mencegah provokasi. Dalam hal ini, generasi muda memegang peran strategis untuk memanfaatkan ruang digital secara positif, kritis, dan inklusif.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali, Drs. H. Ali Muhson, M.Ag., M.Pd.I., MH., MM., menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen dalam merawat kedamaian. Menurutnya, persatuan bukan sekadar tugas satu atau dua pihak, melainkan tanggung jawab bersama seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) dan pemerintah daerah.

"Bagi kami, selaku Pimpinan Daerah Muhammadiyah Boyolali, berpendapat bahwa persatuan, kedamaian, dan kerukunan itulah yang utama. Segala upaya harus dilakukan untuk mewujudkannya. Upaya-upaya itu harus dilakukan secara bersama dan ada kebersamaan," ujar Ali Muhson.

Ia mendorong pentingnya dialog berkelanjutan antar tokoh agama dan ormas untuk menyamakan persepsi mengenai makna toleransi atau tasamuh yang hakiki. Ali menjelaskan bahwa toleransi tidak hanya menghormati mereka yang menjalankan keyakinannya, tetapi juga menghargai mereka yang memilih untuk tidak melaksanakannya.

"Toleransi itu bukan saja menghormati dan menghargai orang lain yang melaksanakan keyakinan atau ajarannya yang diyakini kebenarannya, tetapi juga menghormati dan menghargai orang lain yang tidak melaksanakan ajaran yang menurutnya itu tidak benar," terangnya.

Sebagai contoh konkret, Ali menguraikan perbedaan praktik ibadah atau tradisi keagamaan di tengah masyarakat yang seharusnya disikapi secara dewasa tanpa memicu perpecahan.

"Bagi yang mau tahlilan, shalawatan, barjanjen, dan manakiban ya silahkan, tidak usah dibenci dan dikucilkan. Tetapi bagi yang tidak mau tahlilan, shalawatan, barjanjen, dan manakiban ya silahkan, tidak usah dibenci dan dikucilkan. Itu konsepsi toleransi kami," tegasnya.

Harmoni di Boyolali pada akhirnya dipelihara melalui aksi nyata sehari-hari—mulai dari lingkungan keluarga, tetangga, hingga komunitas. Menjaga kebersihan, menyapa tetangga, serta menyelesaikan gesekan sosial tanpa kekerasan adalah langkah sederhana yang berdampak besar.

Keberagaman di Kabupaten Boyolali bukan bertujuan untuk menyamakan seluruh pandangan, melainkan membangun kedewasaan agar masyarakat dapat terus berjalan beriringan demi mewujudkan kehidupan sosial yang aman, damai, dan harmonis.