Muhammadiyah
Sabtu, 08 Agustus 2026 09:06 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Kemudahan akses layanan paylater dan pinjaman online kini menjadi tantangan berat yang mengancam ketahanan domestik keluarga muda di Indonesia. Di tengah tekanan inflasi yang tinggi serta maraknya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) akibat pengaruh media sosial, masyarakat dituntut untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan agar tidak terperosok ke dalam lingkaran utang konsumtif.
Peringatan tersebut disampaikan oleh perwakilan Danamon Syariah, Indah Tri Kurniawati, dalam Forum Edukasi Literasi Keuangan Keluarga Muda Tangguh. Ia menekankan bahwa literasi keuangan memiliki korelasi langsung terhadap keharmonisan sebuah rumah tangga.
"Banyak orang berpikir paylater memudahkan karena bisa bayar nanti. Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, tagihan akan menumpuk, memicu stres, hingga berdampak pada hubungan keluarga dan pola asuh anak," ujar Indah.
Ia memaparkan data bahwa Indeks Literasi Keuangan Nasional saat ini telah mencapai angka 64,46 persen. Kendati demikian, indeks literasi untuk keuangan syariah masih tertinggal di kisaran 43 persen. Kesenjangan pemahaman inilah yang ditengarai membuat masyarakat menjadi lebih rentan terjebak iming-iming kemudahan paylater maupun pinjaman online ilegal.
Lebih lanjut, Indah menegaskan bahwa prinsip paling mendasar dalam manajemen keuangan keluarga adalah memastikan pengeluaran tidak pernah melebihi pendapatan. Jika terpaksa harus mengambil opsi berutang, maka pinjaman tersebut idealnya bersifat produktif dengan total alokasi cicilan maksimal 30 persen dari penghasilan bulanan.
Selain menyusun target keuangan dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound), setiap keluarga juga diwajibkan untuk mulai membangun dana darurat. Langkah ini dinilai krusial sekaligus sebagai benteng pertahanan dari maraknya modus penipuan digital belakangan ini.
Sebagai panduan praktis, Indah membagikan lima langkah sederhana untuk menjaga kesehatan finansial keluarga:
Melalui edukasi ini, keluarga muda diharapkan dapat lebih mawas diri dalam menata arus kas domestik. Sebab, sehatnya keuangan keluarga tidak diukur dari seberapa besar penghasilan yang diperoleh, melainkan dari kebijaksanaan dalam mengelola setiap rupiah yang dimiliki.
Bagikan